Inspiration

Banyak Jalan Bisa Ditempuh Untuk Membangun Kerukunan Antarumat Beragama

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Sebagian peserta pertemuan koordinatif Timja HAK dan anggota/pengurus FKUB se-KAS gelombambag pertama.

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, saya yakin dan percaya bahwa ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk membangun kerukunan antarumat beragama. Keyakinan itulah yang saya bagikan kepada para peserta pertemuan perdana sinergi antara Timja HAK Paroki dan Kevikepan dengan anggota dan pengurus FKUB Kecamatan, Kota, Kabupaten dan Provinsi di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan (Sabtu-Minggu, 10-11/3/2018). Seperti apakah?

Referensi pihak ketiga

Pertama, kerukunan antarumat beragama bisa dibangun sejak usia kanak-kanak hingga dewasa. Kesempatan untuk melek agama lain bisa dilakukan dari anak-anak, misalnya, dari usia anak Taman Kanak-Kanak. Dalam hal ini, saya melakukannya dalam kerja sama dengan lembaga pendidikan sekolah Katolik, misalnya dengan TK Theresia Mardi Rahayu Ungaran. Para Suster Abdi Kristus (AK), sangat maju dalam hal ini. Mereka mengajak anak-anak melakukan kunjungan ke tempat-tempat ibadat agama-agama dalam rangka upaya membangun kerukunan sejak usia dini.

Kedua, kerukunan antarumat beragama bisa dibangun bersama dengan remaja dan orang muda. Saya bagikan kepada para peserta pengalaman saat selama sepuluh tahun ini mengajak remaja dan orang muda untuk membangun kerukunan dengan cara kunjungan ke pondok pesantren, melalukan edukasi keberagaman, dan melakukan gelar seni dan budaya. Sepanjang tahun 2017 yang lalu, kami, Komisi HAK Keuskupan Agung Semarang menyelenggarakan srawung orang muda di empat kota (Semarang, Solo, Yogya dan Muntilan). Para remaja, orang muda bahkan orang dewasa sangat antusias mendukung gerakan ini.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – gelar budaya rakyat di alun-alun Bung Karno Ungaran Kabupaten Semarang

Ketiga, kerukunan antarumat beragama bisa dibangun bersama dengan para aktivits seni dan budaya. Kita bekerja sama dengan para aktivis pelaku seni dan budaya dalam rangka merajut tenunan kebangsaaan dan kerukunan antarumat beragama. Para seniman dan pelaku budaya diberi ruang untuk mengekspresikan diri dalam rangka kerukunan dan persaudaaan dalam keberagaman. Hal yang sama juga terjadi di empat kota (Ungaran, Solo, Yogya dan Muntilan).

Keempat, kerukunan antarumat beragama bisa dibangun bersama dengan jalur gelar seni dan budaya. Ini merupakan kelanjutan dari yang ketiga, hanya pelaksanaannya melibatkan masyarakat luas. Maka, gelar seni dan budaya seperti ini kita lakukan di lapangan terbuka atau alun-alun, dalam kerja sama dengan Dewan Kesenian Kota/Kabupaten. Hasilnya pun luar biasa, sangat menginspirasi siapa saja untuk selalu hidup rukun dan damai dalam kegembiraan.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr bersama para aktivis dan pelaku seni dan budaya di Yogyakarta

Kelima, kerukunan antarumat beragama bisa dibangun melalui jalur ekologis. Artinya, kita mengadakan gerakan menanam pohon dan mencintai serta membela keutuhan ciptaan dan lingkungan hidup. Cara ini bisa ditempuh dengan melibatkan anak-anak, remaja, orang muda dan dewasa. Itulah yang coba kami buat dalam beberapa tahun terakhir. Hal yang sama juga terjadi dalam rangka kelestarian alam di kawasan pegunungan Kendeng, bekerjasama dengan rekan-rekan Seludur Sikep yang dimotori oleh Kang Gunretno dan Mbakyu Gunarti.

Akhirnya, kerukunan juga bisa dibangun melalui cara sehat dengan gerakan olah raga bersama, entah jalan sehat, atau olah raga kerakyatan senam bersama. Gerakan ini bisa dipadukan dengan jalur seni dan budaya, maupun merti bumi dan semesta. Bisa pula melibatkan segala usia.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr bersama para aktivis seni dan pelaku budaya di Ungaran Kabupaten Semarang

Dalam kesemuanya itu, tujuan kita hanya satu. Kita ingin menjadi umat beriman – apa pun agama kita – yang inklusif, inovatif, dan transformatif dalam kerja sama dan sinergi multikultural dengan siapa saja di mana pun berada. Arah utama dari semua itu adalah mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama kita.

Itulah pokok-pokok gagasan dari pengalaman yang kusampaikan kepada para peserta pertemuan koordinatif antara Timja HAK Paroki dan Kevikepan serta anggota/pengurus FKUB Kecamatan, Kota, Kabupaten dan Provisi, khususnya yang beragama Katolik. Saya berharap, yang saya sampaikan dengan didukung foto dan dokumentasi film itu dapat menginspirasi mereka untuk memperkokoh gerakan kerukunan di tingkat akar rumput.

Demikian semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, 11/3/2018

Sumber: refleksi atas bahan-bahan yang kusampaikan dalam pertemuan koordinatif TImja HAK dan FKUB Se-Keuskupan Agung Semarang.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4420246090135472?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.