Inspiration

Kiranya Dia Disambut Sang Cahaya Abadi Di Planet Lain Bernama Surga

S da dariahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, atas artikel saya yang berjudul “Stephen William Hawking, Meski Cacat Namun Membawa Banyak Berkat!” (terbit di tz.ucweb.com/3_3Fhdx 2018/03/14 14:45) terdapat sejumlah komentar melalui jalur pribadi (japri) dalam bentuk pertanyaan. Intinya, pertanyaan itu bisa dirumuskan begini: Apakah Hawking masuk surga karena dia menyatakan diri sebagai ateis? Menurut Anda, apa kira-kira jawabannya? Inilah jawaban saya.

Referensi pihak ketiga dari www.elmundo.es

Kiranya, Stephen William Hawking disambut Sang Cahaya Abadi di planet lain bernama surga. Jawaban itu saya berikan sesuai dengan kontribusi intelektual Hawking dalam bidangnya sebagai seorang Astro-Fisikawan.

Memang, pada suatu hari dalam wawancaranya dengan Pablo Jauregui, jurnalis El Mundo, di Spanyol, Hawking pernah mengklarifikasi posisi dirinya terkait dengan Tuhan dan agama, yang telah menimbulkan perdebatan sengit di antara para pembaca bukunya. Pablo Jauregui, merujuk buku A Brief History of Time (1998). Dalam buku itu Hawking menulis bahwa jika kita pernah mencapai teori tentang segala sesuatu” kita akan tahu “pikiran Tuhan”.

Akan tetapi, di kemudian hari dalam buku kontroversialnya The Great Design yang ditulisnya pada tahun 2010 sesudah buku A Brief History of Time (1998), Hawking menegaskan bahwa alam semesta dapat diciptakan “dari ketiadaan apa-apa, oleh generasi spontan”. Di sini kita menemukan pernyataannya yang kontroversial bahwa gagasan tentang Tuhan “tidak perlu” untuk menjelaskan asal-usul segala sesuatu.

Referensi pihak ketiga dari vivanoticias.net

Dalam kontradiksi antara keberadaan dan ketiadaan Tuhan dalam kaitannya dengan alam semesta ini, Pablo Jauregui, jurnalis El Mundo bertanya kepadanya tentang disposisi dirinya. Inilah jawaban Hawking yang mengejutkan dan dianggap kontroversial itu.

“Di masa lalu, sebelum kita memahami sains, masuk akal untuk percaya bahwa Tuhan menciptakan Alam Semesta. Tapi sekarang sains menawarkan penjelasan yang lebih meyakinkan. Apa yang saya maksudkan ketika saya mengatakan bahwa kita akan tahu ‘pikiran Tuhan’ adalah bahwa kita akan memahami segala sesuatu yang Tuhan dapat mengerti jika hal itu ada. Tapi tidak ada Tuhan. Saya seorang ateis. Agama percaya pada keajaiban, tapi tidak sesuai dengan sains. “

[Sumber dari www.nbcnews.com/science/space/i-m-atheist-stephen-hawking-god-space-travel, 23 September 2014]

Dalam permenungan saya, jawaban itu saya duga lahir dari pengalaman pribadinya dan pergumulannya yang panjang dengan penyakitnya. Pada usia 21 tahun, Hawking mengalami sakit yang hebat, yang membuat dirinya dinyatakan hanya akan bertahan hidup maksimal dua tahun saja. Namun faktanya, ia mengalami “keajaiban” yang ditopang oleh sains. Ia masih hidup hingga setengah abad setelah didiagnosis tersebut. Itulah tampaknya yang membuat Astro-Fisikawan itu kemudian menolak semua keyakinan agama secara langsung, bahkan keberadaan Tuhan.

Referensi pihak ketiga dari www.altonivel.com.mx

Tentu, wajar bila orang dengan agama tertentu lalu bertanya: Mengapa “keajaiban” itu tidak dia terima sebagai mujizat dan campur tangan Tuhan yang bahkan melampaui sains? Bukankah diagnosa medik itu bagian dari sains? Nyatanya, diagnosa medik yang berbasis sains itu tidak benar juga, sehingga meski didiagnosa umurnya tak akan lebih dari dua tahun, namun faktanya Sang Pemberi Hidup justru menganugerahkan kepadanya umur panjang berlipat-lipat dari dua tahun yang diduga secara medik?

Diskusi tentu bisa panjang. Namun, yang menurutku paling menarik dan inspiratif adalah ini. Betapa pun Stephen William Hawking (8 Januari 1942 – 14 Maret 2018) telah memberikan kontribusi yang luar biasa istimewa dalam dunia pengetahuan. Secara kemanusiaan, Hawking telah memberi inspirasi kepada siapa saja yang mengalami situasi disabel atau difabel untuk tetap bisa bertahan hidup dan berkarya bagi sesama.

Tanpa mengurangi rasa hormat atas pernyataan dirinya sebagai seorang ateis, bersama Gereja Katolik, saya memiliki pandangan bahwa kiranya Stephen William Hawking disambut oleh Sang Pencipta dan Sang Cahaya Abadi di planet lain yang dirindukannya. Dan planet lain itu bolehlah kita sebut sebagai surga yang penuh cahaya keabadian. Kita tetap berdoa untuk keselamatan jiwa dan raganya agar mengalami kebahagiaan surgawi itu.

Demikian, semoga bermanfaat. Itu pandangan saya berdasarkan Gaudium et Spes (Konsili Vatikan II, khususnya dari artikel nomor 21). Salam peradaban kasih. Terima kasih kasih. Tuhan memberkati.***

Kantor Majalan INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan Semarang, 15/3/2018

Sumber:refleksi pribadi atas kematian Stephen William Hawking berdasarkan Gaudium et Spes No. 21. Informasi tentang Sethen William Hawking saya peroleh dari dua laman utama ini www.biography.com/people/stephen-hawking; www.nbcnews.com/science/space/i-m-atheist-stephen-hawking-god-space-travel

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4111416136479826?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.