Inspiration

Menuju Langit dan Bumi Baru, Satu Indonesiaku

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, setiba di Pastoran Wurlirang Semarang sesudah perjalanan panjang dari Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, saya membaca tulisan Yesaya (wafat tahun 701 Sebelum Masehi) sebagai bahan permenungan malamku. Dalam permenunganku itu, tiba-tiba, saya teringat akan sebuah kolaborasi indah para artis yang menyanyikan lagu “Satu Indonesiaku”. Loh, kok bisa? Ya, beginilah prosesnya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Minggu (11/3/2018), dalam keheningan malam, saya baca tulisan Yesaya sebagai bekal untuk istirahat malamku. Tulisan itu sangat menyentuh hati, jiwa dan hidupku. Beginilah tulisan itu selengkapnya.

“Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru! Hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati. Bergiranglah dan bersorak-sorak untuk selama-lamanya atas apa yang Kuciptakan.”

Kalimat “Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru” menggema begitu kuat dalam hati, jiwa dan pikiranku. Tulisan Yesaya sendiri berisi suatu firman yang menubuatkan masa depan kehidupan yang damai, yang ditandai oleh langit dan bumi baru.

Dalam permenunganku, saya pun lantas membayangkan, alangkah indahnya bila nubuat firman itu ditempatkan dalam konteks negeri dan bangsa kita, Indonesia. Nah pada saat itulah, tiba-tiba terngiang dan terbayang satu video kolaborasi para artis yang menyanyikan lagu “Satu Indonesiaku”.

Video itu berisi kolaborasi yang menampilkan para artis yang sedang menyanyikan beberapa lagu yang digabung menjadi satu. Bagiku, karya ini indah dan menginspirasi hidup saya dalam rangka membangun peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama kita, dalam keberagaman.

Dalam kolaborasi itu, para artis menyanyikan empat lagu yang di-mix menjadi satu, yakni lagu “Rayuan Pula Kelapa” ciptaan Ismail Marzuki, lagu Zamrud Khatulistiwa ciptaan Guruh Soekarno Putra, lagu “Kolam Susu” ciptaan Yok Koeswoyo (Koes Plus), dan lagu Pemuda ciptaan Candra Darusman. Selain keseluruhan lagu yang dinyanyikan, yang bagiku sangat inspiratif adalah kalimat-kalimat awal dan kalimat akhir di antara kolaborasi mereka. Tertulis kalimat awal sebagai berikut.

Predikat kita: Bangsa besar yang Bhinneka, hidup di negeri yang kaya, subur, indah dan permai. Akankah kita menanggalkannya?

Lalu di akhir lagu ditutup dengan kalimat indah yang menantang semangat kebangsaan kita dan semangat kerukunan kita. Kalimat itu singkat, padat dan bermanfaat:

Kita jaga kebhinnekaan dan persatuan.

Orisinil sumber dari Musica Studio’s dipublikasikan tanggal 9 Jan 2017

Begitulah saya dalam permenungan itu, saya mengalami satu kerinduan dan damba, semoga terjadilah langit baru dan bumi baru, satu Indonesiaku yang damai, tenteram, rukun dan bersatu. Semoga terciptalah langit baru dan bumi baru sebagai wujud peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama kita.

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, demikianlah sharing saya. Semoga kerinduan dan damba itu juga menjadi damba dan kerinduan Anda. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati.

Johar Wurlirang Semarang, 11/3/2018.

Sumber:┬árefleksi pribadi berdasarkan tulisan Yesaya 65:17-21 dan video youtube “Satu Indonesiaku” (Musica Studio’s, 9 Januari 2017.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2223899619569900?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.