Inspiration

Pentingya Mengenal Agama Lain Demi Kerukunan Dan Persaudaraan Sejati

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS) melanjutkan program pertemuan koordinatif Timja Komisi HAK Paroki dan Kevikepan serta FKUB Semarang dan Kedu se-Keuskupan Agung Semarang (Sabtu 17-18/3/2018). Ini merupakan pertemuan gelombang kedua, sesudah gelombang pertama yang dilakukan pekan lalu (11-12/3/2018) untuk Solo dan DIY. Pada kesempatan ini, saya menerangkan kepada para peserta pentingya mengenal agama lain demi terwujudnya kerukunan dan persaudaraan sejati.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr Dr. Tedi Kholiludin dan Lukas Awi

Bila pertemuan di gelombang pertama (untuk peserta dari Solo dan DIY) diikuti oleh 100 orang, pertemuan di gelombang kedua ini (untuk peserta dari Semarang dan Kedu) diikuti oleh 81 orang. Pada pertemuan gelombang kedua ini ada enam peserta perempuan, selebihnya laki-laki. Yang menarik adalah bahwa di pertemuan ini sejumlah peserta berasal dari kalangan kaum muda dan bapak-ibu usia relatif muda. Bagiku, ini sungguh luar biasa istimewa dan membahagiakan.

Berikut adalah gambaran rangkaian keseluruhan acara yang kami susun. Acara diawali dengan pembukaan, perkenalan dan sharing kelompok dengan bahan tentang pengalaman negatif dan positif serta apa saja yang sudah dibuat dalam rangka kerukunan dan persaudaraan sejati.

Sesudah makan malam, saya berbagi kisah dan pengalaman tentang upaya-upaya nyata yang saya lakukan dalam rangka hubungan antaragama dan kepercayaan di Keuskupan Agung Semarang dan di negeri ini. Kisah dan pengalaman itu kulakukan dan kubagikan berdasarkan ajaran Gereja Katolik, khususnya Lumen Gentium 16 dan Nostra Aetate.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Sebagian peserta pertemuan koordinatif Tim Kerja HAK KAS dan FKUB

Bila pada pertemuan pertama, kami menghadirkan Mbak Agnes sebagai nara sumber selain saya, pada pertemuan kedua, kami menghadirkan Dr. Tedi Kholiludin, dosen Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang. Beliau juga menjadi salah satu pengurus PWNU Jawa Tengah. Tujuan utamanya adalah untuk belajar mengenal agama lain demi terwujudnya kerukundan dan persuadaraan sejati.

Gus Tedi – begitu biasa kami memanggila Tedi Kholiludin – menjadi nara sumber untuk mencerahkan para peserta dalam rangka mengenal agama lain, sekaligus membawa peserta untuk terbuka pada persoalan-persoalan nyata dalam hidup sehari-hari. Semua itu tak lepas dari komitmen untuk merajut kerukunan dan persaudaraan sejati di antara kita, apa pun agamanya.

Sesudah memberikan peta dan perkembangan dinamika kerukunan di Jawa Tengah berdasarkan penelitian dan analisis yang dilakukan oleh lembaga yang didampinginya, yakni eLSA (Lembaga Sosial Agama); Tedi mengajak para peserta untuk memiliki sensitivitas (kepekaan) dalam perjumpaan dengan siapa saja, terutama yang berbeda dari kita. Sensitivitas ini membuat kita belajar rendah hati dalam mengenal agama lain, tanpa mudah menghakimi pihak yang lain berbeda.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Menurut hemat saya, yang disampaikan Tedi Kholiludin sangat penting untuk membuka mata dan telinga kita – terutama para anggota Timja HAK dan FKUB se-KAS, khususnya yang tinggal di Semarang dan Kedu. Kita diajak untuk mewujudkan kerukunan dan persaudaraan sejati melalui civil religiosity, yakni cara beragama yang berTuhan dan berbudaya dalam sikap saling hormat satu terhadap yang lain.

Mengenal agama lain dalam kerendahan hati dan sikap hormat itu penting. Itulah yang membuat Gereja Katolik dengan tegas mengajarkan cara pandang positif dalam melihat agama-agama lain. Salah satunya dinyatakan dalam Nostra Aetate 2.

“Gereja Katolik tidak menolak apa pun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang.”

Ajaran itulah yang dihayati melalui perjumpaan koordinatif ini dengan kehadiran para nara sumber, salah satunya Dr. Tedi Kholiludin. Terima kasih kepada Gus Tedi yang berkenan membantu kami untuk upaya ini. Terima kasih kepada Mas Lukas Awi Tristanto yang memandu rangkaian acara ini.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Saya mengajak peserta menghayati salam rukun dan salam ketawa

Demikian, semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, 18/3/2018.

Sumber: refleksi pengalaman pribadi berdasarkan penyelenggaran Pertemuan Koordinatif Timja HAK dan FKUB se-KAS, Kedu dan Semarang.

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3501882459240388?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.