Inspiration

Siap Menerima Rantangan, Siap Pula Menghadapi Tantangan

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, saya berdoa, agar Anda selalu sehat, kuat dan diberkati Tuhan dengan rantangan walau harus menghadapi tantangan. Amin.

Awas, jangan keliru. Ini bukan tentang makanan atau catering, bukan! Rantangan dalam tulisan ini adalah simbol meski simbol itu kuangkat dari pengalaman.

Tulisan ini merupakan refleksiku atas pengalaman pribadi. Semoga menginspirasi Anda dalam menghayati kehidupan ini untuk siap menerima rantangan, tetapi juga siap menghadapi tantangan. Apa maksudnya?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Bagiku, hidup yang mudah, gampang, mulus dan penuh berkat itu laksana menerima rantangan. Maka, rantangan adalah simbol berkat, kemudahan dan kesejahteraan. Sedangkan hidup yang tak mudah, tak gampang dan tak mulus adalah simbol hidup yang sedang menghadapi tantangan. Tantangan adalah berbagai kesulitan, cobaan, rintangan, atau bahkan penderitaan yang kita alami.

Faktanya, hidup itu tak selalu mudah. Hidup itu tak selalu gampang. Hidup itu tak selalu mulus. Akan selalu ada kesulitan. Akan selalu ada cobaan. Akan selalu ada rintangan. Bahkan, akan selalu ada penderitaan dalam hidup kita. Namun jangan takut.

Tentang rantangan, ini adalah pengalaman pribadi. Dan itu terkait dengan kehidupan para romo dalam tradisi Gereja Katolik, khususnya di Keuskupan Agung Semarang (yang saya ketahui, mungkin juga di Keuskupan lain terjadi hal serupa). Ketika saya kecil, pada periode tertentu, almarhumah ibu saya bertugas atau mendapat giliran mempersiapkan makanan untuk romo paroki kami. Saat itulah, ibu akan memasak sedikit lebih enak, karena bertugas mempersiapkan lauk pauk dan sayur untuk romo paroki. Dan semua itu disiapkan dan ditaruh di rantang yang panjang. Sebanyak jumlah rantang itulah, lauk pauk disediakan, meski ada satu rantang yang hanya berisi sambal bawang atau sambal trasi.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr Inilah rantangan yang kuterima setiap sore dari Warung Bu Suparmin sejak saya tinggal di Wurlirang. Rantangan itu dimaksudkan untuk makan malamku. Tetapi biasanya kubagi dua, separo untuk makan malam, separo untuk sarapan bila sempat hehehe.

Ternyata, di kemudian hari, setelah dua puluh dua tahun saya menghayati hidup sebagai romo, itulah pula yang saya terima. Terutama ketika saya bertugas di paroki. Kami para romo, dalam hal makanan, khususnya lauk pauk dan sayur-mayur, tergantung dari umat. Di paroki, para romo menerima rantangan sehari tiga kali untuk sarapan, makan siang dan makan malam.

Umat yang bergiliran bertugas memasakkan romo, sama seperti almarhumah ibu saya di saat saya masih kecil, selalu mempersiapkan rantangan dengan isi yang terbaik. Padahal, maksud sesungguhnya adalah, rantangan itu mestinya diisi apa saja yang dimakan oleh keluarga yang bertugas, dan itu pula yang dimakan oleh romo sebagai bentuk sehati-seperasaan dengan umat. Namun faktanya, umat berkehendak lain. Setiap kali bertugas memasakkan romo dan bergiliran mengirimkan rantangan, maka dibuatlah masakan yang lebih enak dari biasanya. Nah ini sebetulnya salah kaprah!

Dari pengalaman itulah, saya renungkan dan refleksikan bahwa rantangan menjadi simbol kebaikan, kemurahan hati, dan kesejahteraan yang kami terima dari umat. Bahkan, rantangan adalah simbol berkat dari Tuhan sendiri yang mengasihiku, mengasihimu, mengasihi kita semua.

Selain harus siap menerima rantangan, kami, para romo/pastor juga harus siap menghadapi tantangan. Tugas-tugas yang dipercayakan kepada kami tidaklah serba mudah. Ada tantangan yang harus dihadapi dengan gembira dan penuh syukur, sambil terus mengandalkan kekuatan rahmat dan kasih Tuhan.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Maka, bila rantangan adalah simbol hal-hal yang baik, mudah, gampang, mulus, kesejahteraan, kemurahan hati bahkan berkat; tantangan adalah simbol yang sebaliknya. Bahkan, tantangan bukan hanya simbol melainkan kenyataan yang harus dihadapi dengan gembira, penuh syukur dan rendah hati. Setiap orang bisa menghadapi tantangan yang berbeda. Demikian juga di setiap tempat yang berbeda, tantangan juga berbeda. Yang terpenting adalah selalu siap menghadapi tantangan dengan bahagia.

Untuk kita pun, di mana pun, mestinya juga harus siap menerima rantangan dan sekaligus menghadapi tantangan. Rantangan itu adalah berkat, rahmat, kasih, kebaikan dan kemurahan hati dari Tuhan. Anda pasti memperoleh rantangan tertentu sesuai dengan kehidupan Anda. Namun, Anda harus pula siap menghadapi tantangan hidup, apa pun bentuknya. Dan yang terpenting adalah, hadapilah tantangan itu dengan bahagia, gembira, penuh syukur dan rendah hati.

Bila sikap itu bisa dihayati, maka, percayalah, bahkan tantangan pun – apa pun bentuknya – akan diubah oleh Tuhan sendiri menjadi rantangan bagi Anda. Penderitaan bisa diubah menjadi berkat bagi kehidupan kita. Siapkah kita menerima rantangan dan tantangan, bahkan tantangan yang akan diubah menjadi rantangan pula? Semoga!

Oh ya, omong-omong, kira-kira, apa ya yang menjadi rantangan Anda saat ini? Lalu, apa pula yang menjadi tantangan Anda saat ini pula? Bagaimana Anda menyikapinya? Boleh, silahkan dan terima kasih kalau berkenan menjawab di kolom komentar. Kalau tidak yang nggak apa-apa. Yang pasti, saya berdoa, semoga tantangan yang sedang Anda hadapi, segera diubah menjadi rantangan yang membahagiakan Anda!

Demikian, semonga bermanfaat. Terima kasih, Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang, 13/3/2018

Sumber: refleksi pengalaman pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1730594719728681?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.