Inspiration

Spiritualitas Rumah Kasih dan Damai

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, mengakhiri pertemuan koordinatif Timja HAK Paroki-Paroki dan Kevikepan serta anggota/pengurus FKUB Se-KAS khususnya yang dari Solo dan DIY (Sabtu-Minggu, 10-11/3/2018), membuat saya sampai pada kesimpulan rohani tentang spiritualitas rumah kasih dan damai. Apa maksudnya dan seperti apakah itu?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kita hidup di dunia dengan segala tantangan dan kesulitan yang ada, juga dalam rangka membangun kerukunan, persaudaraan dan perdaiaman dalam keberagaman. Tantangan-tangan yang ada bisa membuat kita semua dicekam ketakutan oleh sebab ada kebencian dan bahkan kekerasan. Pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa menghayati kehidupan seperti itu tanpa harus mengalami kehancuran dan keputusasaan?

Jawabannya sederhana, meski tidak mudah untuk dilaksanakan. Apa jawabannya? Kita dipanggil untuk menghayati spiritualitas rumah kasih dan damai. Dunia ini saya ibaratkan laksana rumah, tempat kita tinggal. Kita tinggal di rumah ini tidak sendirian, melainkan bersama dengana berbagai pihak lain yang pasti tidak bisa tidak berbeda dari kita. Perbedaan tidak harus menjadi sumber perpecahan, apalagi ketakutan dan ancaman.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr Kegembiraan para peserta pertemuan Timja HAK dan FKUB saling meneguhkan

Bagi saya, rumah kasih adalah rumah yang ditandai oleh sikap saling menghormati, menghargai, dan tentu saja mengasihi satu terhadap yang lain. Justru keberbedaan itu harus menumbuhkan sikap saling menghormati, menghargai dan mengasihi; bukan sebaliknya, saling menghina, saling mencela dan membenci.

Mengapa kita harus saling menghormati? Karena kita adalah saudari-saudara satu bangsa dalam dasar Pancasila, dengan bingkai Bhinneka Tunggal Ika, di rumah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan atas landasan konstitusi UUD 1945 yang menjamin kebebasan untuk membangun hidup rukun.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr Para peserta saling menepuk bahu temannya sambil mengatakan, “Jangan takut! Mari hidup dalam rumah kasih dan damai!”

Inilah yang mestinya membuat kita bisa menghayati dan menghadirkan spiritualitas rumah kasih dan damai di negeri kita tercinta Indonesia. Kita diundang untuk menjaga dan merawat rumah kita dalam semangat kasih dan damai.

Demikian refleksi saya. Bagaimana kira-kira menurut Anda? Semoga bermanfaat, Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, 11/3/2018

Sumber: refleksi pribadi atas pertemuan gelombang pertama Timja HAK Paroki dan Kevikepan serta anggota/pengurus FKUB Se-KAS, khususnya dari Solo dan DIY.

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2892539714831269?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.