Inspiration

Tetap Semangat Saat Mendekati Garis Finish, Pertanggungjawabkanlah Talentamu!

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, artikel saya yang berjudul “Siap Menerima Rantangan, Siap Pula Menghadapi Tantangan” (tz.ucweb.com/3_3wJFh terbit tanggal 2018/03/13 01:46) mendapatkan komentar dan pertanyaan yang menarik. Mau tahu komentarnya? (Bagi yang menjadi pengikut di akun saya mestinya sudah tahu ya hehehe).

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Berikut ini, saya kutipkan seutuhnya komentar dan pertanyaan Sahabat kita. Saya tampilkan sesuai aslinya dengan revisi penulisan saja di sini, tanpa mengubah maknanya.

“Syalom. selamat siang Romo, cara yang tepat untuk menghadapi masa studi mahasiswa tingkat akhir gimana ya Mo heeeeeee. Kan di luar sana tu biasanya ada mahasiswa di tingkat akhir frustasi dan akhirnya memilih jalan yang salah dan berpikir pendek karena tekanan dan tantangan yang dia rasa itu berat dan tak sanggup lagi menghapinya sampai-sampai ada yang bunuh diri dan lain sebagainya heee… Pertanyaannya: Bagaimana cara mengatasinya dan cara yang tepat untuk menghadapinya? Terima kasih, syalom.”

Atas pertanyaan itu, saya sudah memberikan jawaban langsung di kolom balasan. Namun, baiklah, jawaban itu saya uraiakan lebih panjang melalui tulisan ini. Singkatnya, seperti tertulis dalam judul, “Tetap Semangat Saat Mendekati Garis Finish“.

Secara spontan, saya memberikan jawaban sebagai berikut kepadanya pada kolom balasan komentar.

“Syalom sahabatku. Mestinya, semakin mendekati akhir di tingkat akhir, hal itu harus memacu semangat yang bersangkutan untuk segera mencapai garis finish dengan bangga dan penuh kemenangan ya. Tapi coba nanti saya renungkan lebih dalam, sehinga moga-moga mendapatkan jawaban yang lebih akurat. Sementara ini, itu yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati. Syalom.”

Nah, berikut ini jawaban yang moga-moga sesuai harapan, tentu menurut perspektif saya pribadi. Pertama, ingatlah perjuanganmu yang panjang. Sejak awal masuk kuliah hingga tingkat akhir adalah perjuangan yang panjang dan penuh dengan pengorbanan. Masak sih, kita tega mencampakkan begitu saja perjuangan yang panjang itu justru pada saat kita mendekati garis finish.

Kedua, ingatlah pengorban orang-orang yang mengasihimu. Mereka adalah keluargamu, orang tuamu, sanak kerabat dan sahabat yang mendukungmu. Minimal, bangunlah semangat untuk menyelesaikan batas akhir itu demi menghargai kasih dan pengorbanan mereka padamu.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Ketiga, tentu, harus dicari faktor penyebab hingga pada tingkat akhir kok malah padam semangat. Mestinya, semangatnya justru tetap menyala hingga tuntas. Penyebab-penyebab internal diolah dan dipacu untuk menjadi lebih baik. Penyebab-penyebab eksternal, bicarakanlah dengan pihak-pihak terkait. Misalnya, kesulitan dalam menuntaskan skripsi, atau tesis, atau disertasi. Ya coba bicarakan dengan pihak-pihak terkait, misalnya para pembimbing dan promotor. Cari solusi yang terbaik agar bisa menuntaskan tugas dengan baik.

Keempat, ungkapkan kesulitan-kesulitan yang Anda hadapi dengan pihak-pihak yang bisa dipercaya. Dulu, sekian tahun silam (2000-2004) saat saya bertugas sebagai Staf dan Rektor Seminari Tinggi St. Petrus Sinaksak, Pematangsiantar, Sumatera Utara, saya selalu dengan gembira membantu para mahasiswa saya yang mengalami kesulitan dan terbuka mengungkapkan kesulitan-kesulitannya dengan jujur dan rendah hati. Toh, solusi bisa ditemukan dengan bijaksana. Beberapa orang yang sudah putus asa atau frustasi bisa memiliki semangat baru dan kemudian menyelesaikan tanggung jawabnya dengan dewasa.

Kelima, bertanggungjawablah dengan bakat dan talenta yang dianugerahkan Tuhan kepadamu. Hasilkanlah buah sesuai dengan kelipatan yang menjadi hakmu, tetapi jangan dikubur bakat dan talenta itu di dalam tanah, lalu habis itu hanya bisa marah-marah dan menyerah! Lebih elegan dan keren bila talenta itu dipertanggungjawabkan hingga berbuah entah 30 kali lipat, entah 60 kali lipat, syukur bisa menjadi 100 kali lipat!

Akhirnya, jangan jadi pengecut dengan menempuh jalan yang salah, apalagi bahkan bunuh diri. Memang enak bunuh diri? Mungkin secara duniawi masalah selesai, tetapi sesudah itu, ke mana kau bawa jiwamu? Apa yang kau tinggalkan kepada keluarga, sanak kerabat dan sahabat selain rasa duka yang tak tertanggungkan bahkan disertai rasa malu atas aib bunuh dirimu?

Demikian kawan, jawaban yang bisa saya berikan. Semoga bermanfaat. Terima kasih, Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang, 13/3/2018

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/95466113544036?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.