Inspiration

Uang Tak Menentukan Segalanya Tapi Mengapa Ada Yang Segalanya Tak Menentu Jika Tanpa Uang?

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, sejak kecil, boleh dibilang, saya tidak selalu memegang, apalagi punya uang. Syukur kepada Allah, saya berasal dari keluarga yang biasa. Mengalami jatuh bangun, bahkan cenderung masuk dalam kategori keluarga miskin. Dalam keluarga kami, segala sesuatunya tidak diukur dengan uang. Maka, bagi saya, sejak kecil, uang tidaklah menentukan segala-galanya, kendati bagi orang tertentu atau dalam keadaan tertentu tanpa uang segala-galanya bisa jadi tidak menentu!

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dewasa ini, uang telah menjadi berhala baru. Hidup orang tertentu menjadi bergairah saat pasar menawarkan barang baru untuk dibeli. Mengapa? Karena uang telah menguasai hidup kita. Parahnya, manusia direduksi menjadi satu kebutuhan konsumtif. Ini pula yang menjadi akar maraknya korupsi dan susahnya memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya, karena uang telah menjadi berhala baru. Padahal, uang tidaklah menentukan segala-galanya, tapi bagi orang tertentu dan dalam keadaan tertentu, tanpa uang segala-galanya bisa jadi tak menentu. Maka, beranikah kita mengatakan tidak kepada uang yang merupakan berhala baru di zaman now?

Pada masa kecil saya mengalami kebahagiaan sebagai anak dengan berbagai macam bentuk mainan anak kala itu. Tentu, ada yang dibeli dengan uang, tetapi lebih banyak dibuat sendiri oleh ayah saya sebagai mainan tradisional. Pada masa kecil, boleh dibilang, kami masuk kategori keluarga yang sejahtera meski tidak berkelimpahan, melainkan cukup untuk hidup wajar, makan sehari tiga kali dengan menu bergizi. Papan dan sandang cukup, meski tidak mewah.

Tetapi, kami juga pernah mengalami periode masa yang sulit. Apabila orang lain berkata, “Kita mau makan apa? Di mana? Dengan siapa?” Saya berkata kepada almarhumah ibu atau kepada ayah saya, “Bu…, Pak…, apakah ada yang bisa dimakan? Apakah besok kita masih bisa makan?”

Kalau ada sepiring nasi aking (bahasa Jawa: gogek) yakni sisa-sisa nasi dari bahan dasar singkong yang sudah menjadi gaplek dan tepungnya dimasak menjadi nasi thiwul lalu dijemur hingga kering, dan sesudah itu bisa diseduh dengan air panas untuk dimakan, wow, itu sudah merupakan berkat. Apalagi ditambah dengan sambal tempe bosok (tempe busuk) dengan aromanya yang khas, hhmmm istimewa. Lebih istimewa lagi dengan tambahan gereh pethek (ikan asin tipis).

Itulah situasi masa kecil yang pernah kualami di tahun 70-an hingga tahun 1984, sesudah saya diterima di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang. Sebagai anak sulung dari enam bersaudara, sesudah masuk Seminari Menengah Mertoyudan di tahun 1984, setiap menjelang makan, saya selalu menangis, bukan karena tidak ada makanan atau bukan karena makanannya tidak enak, melainkan karena saya ingat kelima adik saya dan kedua orang tua saya dengan pertanyaan dalam hati: Apakah mereka bisa makan ya? Apakah mereka sudah makan ya? Itu yang membuatku menangis setiap kali hendak makan.

Namun, uang tidak menentukan segala-galanya, meski bagi orang tertentu, mungkin tanpa uang segala-galanya tidak menentu! Nyatanya, kami semua, delapan orang, satu ayah, satu ibu, saya dan kelima adik saya, tetapi bisa bertumbuh sehat, kuat, dan bahkan semuanya bisa bersekolah. Padahal kalau dipikir-pikir, sangat jarang kami, punya apalagi pegang uang – kecuali di Hari Raya Idul Fitri, kami anak-anak punya dan pegang uang karena hasil kebaikan orang lain yang memberi sedekah fitrah kepada kami.

Maka, saat saya membaca kalimat Paus Fransiskus yang mengatakan dengan tegas. Berikut saya kutipkan kalimat beliau.

“Tidak kepada uang, berhala baru! Pemujaan terhadap uang telah melahirkan krisis kepribadian, bahkan penyangkalan terhadap keluhuran martabat pribadi manusia. Pemujaan terhadap uang telah melahirkan kediktatoran ekonomi impersonal yang tidak memiliki tujuan manusiawi sejati.” (Evangelii Gaudium no 55)

Kutipan itu sungguh benar, dan menegaskan pemahaman saya bahwa uang tidak menentukan segala-galanya, meski bagi orang tertentu tanpa uang segala-galanya bisa jadi tidak menentu!

Demikian, semoga bermanfaat. Mari kita tidak mendewakan uang apalagi memujanya sebagai berhala baru, agar kita bisa mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama kita. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Kampus Ungu Semarang, 12/3/2018.

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Evangelii Gaudium 55 dari Paus Fransiskus.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1263350510308477?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.