Inspiration

Di Saat Sedang Mengalami Kesepian, Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Sahabat Peradaban Kasih UC News yang terkasih, mari kita akui dengan jujur dan rendah hati, kadang-kadang kita mengalami kesepian yang amat mengerikan, bahkan mengenaskan. Hati kita serasa teriris sembilu, begitu pedih dan perih. Di saat kita sedang mengalami kesepian, apakah yang harus kita lakukan?

Referensi pihak ketiga

Pertama-tama, mari kita membuka mata batin kita untuk mengenali, menyadari, dan merasakan saat-saat kesepian itu sepedih apa pun. Saya sangat terkesan dengan cara Romo Henri J.M. Nouwen menggambarkan kesepian, terutama kesepian secara rohani. Begini beliau menulis dalam bukunya, Bread of the Journey, A Daybreak of the Wisdom and Faith (New York: 1996). Mari kita rasakan kutipannya:

“Dalam kehidupan rohani kita membedakan dua jenis kesepian. Pertama, kita kesepian karena kehilangan hubungan dengan Tuhan. Akibatnya, kita memiliki dorongan kuat untuk menemukan seseorang atau sesuatu yang bisa membuat kita merasa damai, tenang, diterima atau dicintai. Kedua, kesepian justru terjadi karena kedekatan dengan Tuhan yang begitu erat dan mendalam; namun kita tak mampu menangkap dengan perasaan dan pikiran kita.”

Begitulah Romo Henri Nouwen membedakan dua jenis kesepian yang harus kita kenali, sadari, dan rasakan bahkan kita akui dengan jujur. Lebih lanjut, untuk memudahkan kita mengenali, menyadari, merasakan dan mengakui dua jenis kesepian itu, Romo Henri mengumpamakan demikian.

“Dua jenis kesepian itu seperti dua jenis kebutaan. Yang pertama disebabkan oleh tiadanya sinar. Yang kedua disebabkan oleh berlimpahnya sinar. Maka, kesepian pertama harus diatasi dengan iman dan harapan. Sementara itu, kesepian jenis yang kedua harus diatasi dengan rasa syukur dan terima kasih.”

Selanjutnya, ketika membaca dan merenungkan keterangan itu, saya menemukan beberapa hal yang kiranya bisa membantu diri kita ketika sedang mengalami kesepian. Hal terpenting yang harus kita lakukan adalah mencari dan menemukan jenis kesepian itu. Saat kita mampu menentukan jenis kesepian yang kita alami, maka dengan mudah kita akan menemukan solusi untuk mengatasi kesepian itu.

Referensi pihak ketiga

Tetapi ternyata, entah jenis apa pun kesepian yang kita alami, bagaimana pun kita harus menyadari tanda-tanda kesepian itu. Menurut hemat saya, baik jenis yang pertama maupun jenis yang kedua, kesepian rohani biasanya ditandai oleh beberapa hal ini.

Apa pun agama kita, kesepian jenis apa pun, bisa membuat kita tidak ingin berdoa. Itu tanda yang pertama. Tanda berikutnya adalah kalau pun kita mau berdoa, kita tidak mengalami kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Lalu muncul tanda ketiga, yakni bahwa doa menjadi sesuatu yang membosankan. Yang keempat, dan ini berbahaya: pikiran dan perasaan kita dipenuhi oleh keraguan, seakan-akan agama dan hal-hal yang bersifat rohani itu tak lebih dari isapan jempol, dongeng kekanak-kanakan.

Referensi pihak ketiga

Maka, dibutuhkan sikap yang tegas untuk melawan kesepian itu, bukan dengan pemberontakan penuh kemarahan, melainkan dengan penyerahan penuh keikhlasan. Di sinilah, saya jadi ingat peristiwa Yesus, ketika Ia mengalami kesepian yang tragis dan mengerikan, bahkan mengenaskan. Sampai-sampai, kepada tiga sahabat terdekat-Nya, yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus, Ia berkata, “HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku” (Mateus 26:40). Bahkan, dalam kesepian yang pedih dan perih itu, “peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44).

Dalam doa-Nya pun Yesus berkata, “Ya Bapaku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi” (Lukas 22:42). Inilah puncak dari kesepian yang diatasi dengan penyerahan penuh keikhlasan, bukan dengan pemberontakan penuh kemarahan.

Referensi pihak ketiga

Cara Yesus mengatasi kesepian rohani yang maha dahsyat terjadi lagi pada detik-detik menjelang ajal-Nya. Dalam kesepian yang pedih dan perih serta penuh luka yang mengerikan, lahir maupun batin itu, Yesus merasa sendirian. Bahkan Ia merasa ditinggalkan Bapa-Nya, hingga berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mateus 27:46). Kendati demikian, rasa sepi yang pedih dan perih itu toh bisa diatasi-Nya dengan penyerahan penuh keikhlasan, bukan pemberontakan penuh kemarahan. Maka, Yesus berseru, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan nyawa-Ku” (Lukas 23:46).

Itulah contoh yang saya renungkan mengenai apa yang harus saya lakukan ketika sedang mengalami kesepian yang mencekam. Tentu saja, Anda memiliki kemerdekaan dan kebebasan untuk mengikuti contoh siapa pun dalam mengelola kesepian, sesuai dengan agama masing-masing.

Referensi pihak ketiga

Saya bersyukur boleh belajar mengelola kesepian yang kadang begitu mencekam dan membelenggu diriku dengan cara seperti itu. Di saat daku mengalami kesepian yang sedemikian mencekam, tak ada cara lain kecuali dengan rendah hati dan penuh syukur berserah kepada Tuhan yang selalu hadir bersamaku, bahkan ketika aku tidak bisa lagi merasakan kehadiran-Nya di dekatku. Aku tetap belajar untuk percaya dan berserah kepada-Nya!

Demikian, semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang, dari Kamis Putih menuju Jumat Agung 2018.

Sumber: refleksi pribadi atas kesepian yang kiranya dialami Yesus, terinspirasi oleh permenungan Henri J.M. Nouwen, Bread of the Journey, A Daybreak of the Wisdom and Faith (New York: 1996).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2080032265354638?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.