Inspiration

Kalau Bisa Mengampuni, Mengapa Harus Balas Dendam?

Sahabat Peradaban Kasih UC News yang terkasih. Bagi umat Kristiani sedunia, hari Minggu 1 April 2018 bertepatan dengan Hari Raya Paskah Kebangkitan Yesus Kristus. Selamat Paskah bagi Anda yang merayakannya. Ijinkan saya berbagi permenungan inspiratif terkait peristiwa iman tersebut. Apa yang dilakukan Yesus sesudah bangkit dari alam maut? Ia tetap mengasihi dan mengampuni orang-orang yang telah mengolok-olok, menghina, menyakiti, menyiksa bahkan menyalibkan-Nya. Tak sedikit pun muncul niat untuk balas dendam.

Referensi pihak ketiga

Apa pun agama dan kepercayaan kita, kita pun diundang untuk bersikap sama. Kalau bisa mengampuni, mengapa harus balas dendam? Mengampuni dan mengasihi itu jauh lebih mulia dan bermartabat dari pada balas dendam. Mengampuni dan mengasihi itu merupakan bentuk sikap orang yang beradab! Itulah bagian dari peradaban kasih.

Yesus juga mengampuni para murid-Nya yang berkhianat, yang lari, bahkan yang masih ragu-ragu atas kebangkitan-Nya. Dengan penuh kesabaran dan kasih, mereka dibimbing untuk mengalami damai sejahtera, dan menjadi duta pengampunan dan damai sejahtera bagi siapa saja.

Referensi pihak ketiga

Kecenderungan manusiawi kita justru berkebalikan bukan? Saat kita disakiti, kita dengan mudah akan melampiaskan balas dendam. Ketika kita dilukai, dengan penuh amarah kita mencari cara untuk menuntaskan kesumat kita. Inilah yang menjadi sumber segala konflik, perang, dan tindakan kekerasan. Termasuk di dalamnya, hasrat melampiaskan ujaran kebencian, fitnah dan sumpah serapah kepada orang lain yang berbeda dari diri kita. Kita menerima perbedaan itu sebagai ancaman, lalu kita tersulut untuk melakukan kekerasan entah dengan perkataan, atau dengan perbuatan.

Kini saatnya bagi kita membangun peradaban baru. Bagi umat Kristiani, khususnya, Paskah merupakan momentum untuk membangun peradaban baru, yakni peradaban kasih melalui pengampunan, kasih, kelembutan dan persaudaraan.

Referensi pihak ketiga

Bahkan di tengah masyarakat kita, kita mendapatkan banyak contoh sikap nyata dalam hal mengampuni. Alih-alih melampiaskan balas dendam, kita diajak untuk semakin banyak menyalurkan pengampunan. Pada awalnya mungkin sulit, namun pada saatnya, hal itu akan menjadi kebiasaan positif kita. Bagaimana menurut Anda?

Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang, Hari Raya Paskah 2018.

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3962809690952713?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.