Inspiration

Duhai Indahnya! Menjomblo Demi Pelayanan Yang Lebih Total

Sahabat Peradaban Kasih UC News yang terkasih. Alangkah indahnya, menjomblo demi pelayanan yang lebih total! Itulah jawaban yang kuberikan kepada Mbak Uswatun, Mas Rifki dan Mas Suhan. Mereka bertiga mengajukan pertanyaan seputar syarat menjadi pastor (imam/romo) dalam tradisi spiritualitas mistik Katolik.

Referensi pihak ketiga – Kalimat ini menurutku sangat indah!

Pertanyaan yang mereka ajukan itu tidak mengejutkanku, sebab sudah sering – sebagai romo pastor – saya ditanya tentang hal itu. Memang, dalam Kitab Kejadian ada firman yang mengatakan:

“Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28)

Itulah salah satu dasar hidup panggilan berkeluarga, laki-laki dan perempuan saling menikah dan melaksanakan firman itu. Namun, di kemudian hari, Yesus memberikan sabda kepada para murid-Nya. Beginilah Yesus berkata:

“Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” (Mateus 19:12)

Sabda ini menjadi salah satu alasan dan landasan para imam, biarawan-biarawati dalam tradisi spiritualitas mistik Katolik untuk hidup “jomblo”. Menjomblo bukan karena tidak dapat kawin karena cacat sejak lahir; bukan pula karena dijadikan demikian oleh orang lain (karena tersakiti, terlukai entah oleh siapa pun); melainkan karena kami para imam, biarawan-biarawati membuat diri kami demikian atas kehendak bebas, dan terutama demi Kerajaan Sorga.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dewasa ini, bahkan ada banyak kaum awam beriman yang membaktikan diri demi Kerajaan Sorga dengan memilih hidup tidak berkeluarga, atau tidak menikah, atau selibat. Mereka pun dalam arti tertentu sama dengan para imam, biarawan-biarawati yang menjomblo demi pelayanan yang total.

Nah, bagi yang mau menjadi imam/romo/pastor, dalam tradisi spiritualitas mistik Katolik, syaratnya jelas. Ia harus laki-laki sehati dan normal. Lulus seleksi, baik secara intelektual, emosional, spiritual maupun medikal. Keempatnya harus dipenuhi.

Untuk menjadi imam, bila masuk sesudah lulus SLTP, minimal membutuhkan waktu 12 tahun. Tahapan pendidikan ditempuh di Seminari (sekolah/pendidikan calon pastor) Menengah empat tahun (normal); tahun rohani atau novisiat (ada setahun ada yang dua tahun), lalu Seminari Tinggi selama tujuh tahun. Jadi, untuk menjadi romo projo seperti saya, minimal dibutuhkan minimal 12 tahun persiapan pendidikan; bila jalan panggilan itu ditempuh sesudah lulus SLTP. Kalau sesudah lulus SLTA, dibutuhkan waktu minimal 9 tahun. Waduh, ternyata lama banget ya? Memang!

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Itulah bagian dari proses menghayati spiritualitas mistik Katolik. Dengan segala kekurangan, keterbatasan, kelemahan dan kegagalan bahkan kedosaan, kami menghayati proses tersebut hingga tuntas. Kalau memang Tuhan menghendaki, apa pun rintangannya, pastilah jalan panggilan itu terwujud.

Semua itu hanya bertujuan satu: semakin mengasihi Tuhan dan sesama dalam pelayanan yang total dan seutuhanya. Tentu, dengan semuanya itu, kami tetap menerima panggilan pelayanan ini dalam segala rasa syukur dan kerendahan hati; sebab panggilan menjadi seorang imam bukanlah melulu kehendak manusia melainkan menjadi panggilan Tuhan.

Hidup menjomblo bukan karena nasib, melainkan karena pilihan demi pelayanan yang semakin total dan utuh! Itulah alasan mengapa para imam, biarawan-biarawati hidup menjomblo. Tentu saja, ada hal-hal yang fundamental dan esensial yang terus-menerus menjadi pergumulan dan perjuangan penyerahan diri kepada Tuhan dan sesama dalam pelayanan. Uraiannya bisa sangat panjang. Namun, kiranya, jawaban yang kuberikan kepada para sahabatku dari Unwahas Semarang dan yang kunarasikan di platform ini cukup memberikan gambaran yang paling sederhana, mengapa para imam hidup menjomblo! Sekali lagi, semua demi pelayanan yang lebih total dan utuh kepada Tuhan dan sesama! Semua kami hayati dengan gembira dan sukacita.

Demikian, semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang, 6/4/2018

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1592901832267755?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.