Inspiration

Istimewa! Kisah Inspiratif Malam: Saat Romo Mangun “Tidur” Di Pundak Kang Sobary Selamanya

Sahabat Peradaban Kasih UC News yang terkasih. Malam ini (Kamis, 5/4/2018), saya teringat persahabatan antara Romo YB Mangunwijaya Pr (akrab disapa Romo Mangun) dan Muhammad Sobary (Kang Sobary). Keduanya adalah guru-guru saya dalam keberpihakan terhadap kaum duafa dan merajut kerukunan melalui jalur budaya. Saya bersyukur bahkan di kemudian hari, saya boleh bersahabat dengan Kang Sobary. Lalu, peristiwa apa yang saya ingat tentang mereka?

Referensi pihak ketiga

Inilah kisah itu, yang tak hanya kubaca di Harian Kompas pada hari ulang tahunku 14 Februari 1999 lalu, tetapi juga dikisahkan secara langsung kepadaku oleh Kang Sobary saat kami saling berjumpa baik di rumah beliau di Jakarta, maupun saat kami berjumpa di Semarang tahun 2017 yang lalu. Saya beri judul kisah itu, Saat Romo Mangun Tidur Di Pundak Kang Sobary Selamanya. Loh, kok bisa?

Iya, dan itu istimewa bagiku bikin aku iri! Pada tanggal 10 Februari 1999, Romo Mangun dan Kang Sobary menjadi narasumber dalam acara seminar di Hotel Le Meridien Jakarta. Saat jeda istirahat, Kang Sobary mendekati Romo Mangun. Sambil memegang tangannya, mereka berdua berjalan ke sudut ruang seminar.

Referensi pihak ketiga – Romo YB Mangunwijaya Pr

“Ayo, kita omong apa?” kata Romo Mangun sambil memeluk pundak Kang Sobary yang biasa dipanggil oleh Romo Mangun sebagai “Kiai saya. Ini Kiai saya!”. Menurut Kang Sobary, itulah ungkapan kerendahan hati Romo Mangun. Juga, begitulah cara Romo Mangun mengungkapkan kerinduannya kepada Kang Sobary, setiap kali berjumpa, yakni dengan memeluk pundaknya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Saya bersama Kang Sobary di rumahnya di Jakarta dan aku boleh bersandar di pundaknya….

Namun, begitu kesaksian Kang Sobary, belum sempat berbicara, Romo Mangun tampak tertidur di pundak Kang Sobary. Kang Sobary pun membiarkannya. DIsangkanya, Romo Mangun hendak sekadar beristirahat di pundak Kang Sobary. Tetapi, bagi Kang Sobary, ternyata ada sesuatu yang aneh. Makin lama, tubuh Romo Mangun kian tampak berat dan menggelantung di pundaknya. Kang Sobary menahannya dengan rasa cemas. Romo Mangun benar-benar tertidur, tetapi hati Kang Sobary cemas.

Referensi pihak ketiga – Kang Sobary berkisah, saya mendengarkannya.

Kecemasan Kang Sobary benar. Ternyata, Romo Mangun “tidur” di pundaknya selamanya. Romo Mangun mengalami serangan jantung, dan meninggal dunia di pundak Kang Sobary. Begitulah, Romo Mangun wafat. Sampai hari ini, Kang Sobary selalu mengenang peristiwa itu sambil berkata: “Tidurlah, dengan nyaman, wahai jiwa yang damai. Dari sini, di tempat yang rusuh ini, saya mengganggapmu kiblat kemanusiaan yang nyata!”

Demikian kisah inspiratif malam ini. Selamat malam. Selamat beristirahat. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

JohArt Wurlirang, 5/4/2018

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan tulisan dan kisah Kang Sobary (Kompas Minggu, 14 Februari 1999) yang juga dimuat dalam buku “Kata-Kata Terakhir Romo Mangun” (Jakarta, Kompas: 2014).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2906149114034813?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.