Inspiration

Menakjubkan! Orang Suci Dalam Sanggar Penderitaan dan Pengharapan

Sahabat Peradaban Kasih UC News yang terkasih. Menakjubkan! Tak berlebihan bila kusebut Santo Yohannes Paulus II sebagai orang suci dalam “sanggar penderitaan dan pengharapan”. Frasa “sanggar penderitaan dan pengharapan” disampaikan oleh Stanislaw Kardinal Dziwisz, Sekretaris pribadinya. Mengapa sebutan itu diberikan? Apa maksudnya?

Referensi pihak ketiga

Kardinal Dziwisz menyebut itu pasca-penembakan Yohanes Paulus II oleh Ali Agca, 13 Mei 1981, di Vatikan. Karena peristiwa itu, Yohanes Paulus II mendapat pengalaman mendalam atas kedekatannya dengan mereka yang paling menderita, bukan dalam keputusasaan melainkan pengharapan.

Sejak kecil, Paus Yohanes Paulus II yang bernama asli Karol Wojtyla sudah akrab dengan penderitaan. Ibunda terkasihnya wafat, saat ia berumur 9 tahun. Empat tahun kemudian, Edmund, kakaknya meninggal dunia. Di masa mudanya, Karol tak pernah lepas dari penderitaan. Ayahnya pun meninggal dunia di depan matanya.

Referensi pihak ketiga

Ia juga menderita bersama bangsanya, akibat pendudukan Nazi yang mengerikan. DI kemudian hari, Yohanes Paulus II ditembak, bukan dalam perang, melainkan di halaman Vatikan. Peluru yang dilesatkan Mehmed Ali Agca menembus perutnya, siku sebelah kiri dan jari telunjuknya. Pendarahan hebat, pergumulan dengan maut, dan operasi darurat selama 5 jam dijalaninya dalam penderitaan. Ia pun selamat, meski sesudah itu harus menanggung penderitaan fisik.

Referensi pihak ketiga – Sesaat sesudah ditembak Ali Agca, Paus Yohanes Paulus II tetap tersenyum. Itulah pendeirtaan dalam pengharapan.

Peristiwa-peristiwa itulah yang membuatnya sangat dekat dengan orang sakit, menderita, dan terluka. Beliau amat peduli dengan mereka hingga secara khusus menulis Surat Apostolik “Salfici Doloris” (Penderitaan yang Menyelamatkan, 11/2/1984). Sanggar penderitaan dan pengharapan dihidupinya dengan setia, sukacita dan bahagia. Dan ternyata itu telah memberi kesaksian mendalam di tengah arus zaman kehidupan modern. Beliaulah yang menetapkan tanggal 11 Februari sebagai hari doa untuk orang sakit, per tahun 1984.

Referensi pihak ketiga Yohanes Paulus II pun menjumpai dan mengampuni Ali Agca yang menembaknya dan menyembabkannya berada dalam “sanggar penderitaan dan pengharapan”.

Saya bersyukur boleh melihat beliau dari dekat pada musim panas 2002, meski tak bisa bersalaman. Melihat beliau berada dalam sanggar penderitaan dan pengharapan namun tetap tegar dan bahagia, sudah merupakan kebahagiaanku pula. Itu pulalah yang memberi kekuatan padaku, setiap kali boleh mengalami penderitaan, namun tetap dalam pengharapan dan kasih.

Demikian, semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati.***

JohArt Wurlirang, 10/4/2018.

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan buku karya Stanislaw Kardinal Dziwisz¬†Let Me Go to the Father’s House: John Paul II’s Strength in Weakness, Pauline Books & Media: 2006)

Sumber http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1723666197132026?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.