Inspiration

Puji Tuhan! Dia Selalu Menjaga Dan Menyelamatkanku, Hidup Mati Di TanganNya

Sahabat Peradaban Kasih UC News yang terkasih. Puji Tuhan! Dia menjaga dan menyelamatkanku selalu. Saya tulis artikel ini sebagai sebuah refleksi atas pengalaman yang kuyakini sebagai anugerah, bahwa aku masih boleh hidup! Bila tidak, mungkin hari Rabu (11/4/2018) ini merupakan hari ketiga kematianku! Loh, kok bisa?

Referensi pihak ketiga

Puji Tuhan! Dia masih menjaga dan menyelamatkanku selalu. Itulah kesimpulan yang kuambil sesudah pergumulan itu. Pada hari Senin (9/4/2018) dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB, aku terbangun. Yang kuingat hanya dua, saya ingin – maaf – pipis (buang air kecil); namun di saat yang sama, saya merasakan bahwa perutku bagian kiri terasa sangat nyeri dan seperti kram perut. Susah payah aku bisa bangun dari tidur, dan tertatih-tatih melangkah ke toilet.

Sesampai di kamar mandi, saya tak kuat lagi berdiri akibat rasa nyeri pada perut bagian kiri itu. Aku pun duduk tersandar di closet. Kupegang dan lihat bagian perut itu mengeras dan suaaakiiit bukan main. Bagian kiri makin mengeras, bagian kanan membesar. Aneh! Dalam keadaan itu, iman kepada Tuhan membuatku lebih kuat untuk bertahan daripada dicekam kepanikan dan ketakutan.

Referensi pihak ketiga

Hampir satu jam kubergumul dengan rasa sakit itu. Dalam keadaan itu, seluruh tubuhku bergetar. Rasa sakit luar biasa seperti bilah pisau mengiris lambungku bagian kiri. Saya seperti berada antara hidup dan mati. Nafas tersengal. Rasa nyeri menikam. Pandangan mataku kabur.

Namun, segalanya menjadi pulih sesudah satu jam berlalu dalam doa Yesus sesuai irama nafasku yang tersengal itu. Perlahan tapi pasti, sesudah hampir satu jam, rasa sakit berkurang. Saya pun bisa pipis dengan lancar, meski rasa sakit di lambung itu masih terasa. Perut yang tadinya mengeras mulai lentur kembali. Bagian kanan kempes, rata dengan yang kiri. Tampak normal. Saya lega. Tubuhku tak lagi bergetar. Aku bisa keluar dari toilet dengan selamat. Saya berjalan turun ke ruang makan untuk mengunyah kue kering dan minum segelas air hangat, lalu naik ke kamar dan kembali tidur.

Referensi pihak ketiga

Setelah kuingat kembali peristiwa itu, tak ada kata lain kecuali seruan syukur ini: Puji Tuhan! Dia masih menjaga dan menyelamatkanku selalu. Aku masih diberi hidup. Kalau tidak, mungkin hari Rabu (11/4/2018) ini akan menjadi hari ke-3 kematianku hehehe. Memang, hidup mati kita di tangan Tuhan. Maka, aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup. Semoga Anda pun dibebaskan dari pengalaman yang kualami itu. Kuncinya, tetap percaya, jangan panik, dan berdoa, sesuai agama dan kepercayaan Anda.

Salam peradaban kasih. Terima kasih berkenan membaca artikel ini, silahkan bagikan artikel ini bila bermanfaat bagi orang lain. Tuhan memberkati!***

JohArt Wurlirang, 11/4/2018.

Sumber: refleksi pengalaman pribadi.

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4452690263501667?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.