Inspiration

Inspiratif dan Unik! Persahabatan Dalam Keindahan Bunga Anggrek

Sahabat Peradaban Kasih UC News yang terkasih. Artikel ini kutulis berdasarkan refleksi atas persahabatanku dengan seorang pertapa dari Pertapaan Rawaseneng, Temanggung. Persahabatan kami ditandai oleh keindahan bunga anggrek. Kok bisa?

Referensi pihak ketiga

Dua puluh tahun yang lalu kami saling mengenal. Beliau adalah Frater Blasius. Pertapa yang paling unik dan inspiratif. Hatinya tulus dan baik, bahkan murah hati. Di antara para pertapa, maaf, beliau boleh dibilang paling “berisik” secara suara, namun hati dan hidupnya sangat hening.

Dua puluh tahun lalu (1998), saya mengajar Pengantar Kitab Suci untuk para pertapa muda. Beliau yang sudah tak tergolong muda ternyata juga turut menjadi peserta pengajaran tersebut. Keunikan beliau tampak dalam cara berbicara. Suaranya sengau dan keras. Itu yang kemudian memberi kesan lahiriah “berisik”. Beliau selalu tersenyum dan ramah dan menyapa siapa saja dengan suara sengau itu.

Referensi pihak ketiga

Gara-gara suara itulah, maka kami bersahabat dalam bingkai keindahan bunga anggrek. Di akhir pengajaran, saya membuat ujian lisan. Khusus untuk beliau, saya meminta ujian tertulis, sebab saya khawatir bahwa saya tidak bisa menangkap kalimat-kalimat beliau, yang berdampak pada nilai jelek untuk pelajaran yang kuberikan. Namun, beliau bersikeras menempuh ujian lisan. Saya menyerah gara-gara beliau menawarkan bunga anggrek yang beliau tanam dan rawat sendiri, sebagai keunikan beliau yang lain. Hatiku pun luluh oleh sejumlah bunga anggrek yang beliau hadiahkan kepadaku. Beliau pun mengikuti ujian lisan. Saya yang harus berkurban mendengarkan dan menangkap setiap jawaban yang beliau berikan. Sesulit saya menangkap setiap kata yang diucapkannya, namun semudah kebaikan hati beliau yang telah memberikan bunga-bunga anggrek terbaiknya. Begitulah, beliau pun ternyata lulus dengan nilai B. Beliau sangat bahagia!

Sejak itulah, setiap kali saya ke Pertapaan Rawaseneng, minimal empat buah bunga anggrek berbagai jenis disiapkan untukku. Kusyukuri pemberian itu sebagai ungkapan kasih dan persahabatan yang indah. Itulah yang kusebut sebagai keindahan persahabatan laksana indahnya bunga anggrek.

Referensi pihak ketiga

Ah, untungnya, saya tidak terlalu sering ke pertapaan itu. Seandainya aku sering ke sana, dan setiap kali menerima bunga anggrek, maka, pastoranku pun akan penuh dengan bunga-bunga anggrek yang indah, seindah persahabatan kami. Menurutku, inilah yang unik dan inspiratif dari persahabatan kami.

Terima kasih Frater Blasius OCSO. Doakanlah aku, sahabatmu yang nakal dan berdosa ini. Maafkan daku bila selalu menirukan suaramu. Mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa! Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati.***

JohArt Wurlirang, 11/4/2018.

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1180304390290370?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.