Inspiration

Siapa Takut? Ketika Dirimu Diimpikan Mati, Bersyukurlah!

Sahabat Peradaban Kasih UC News terkasih. Hidup mati itu di tangan Tuhan. Namun, mari dengan tenang dan bahagia kita sadari bahwa cepat atau lambat kita akan mati. Tentu, kita semua merindukan bahwa sesudah kematian kita, kita bahagia dalam kehidupan abadi, yakni hidup yang tanpa rasa sakit, tanpa kesedihan, tanpa konflik, tanpa perang, bahkan tanpa kejahatan dan dosa. Pastinya, Anda pun termotivasi untuk mengalaminya bukan, apapun agama dan kepercayaanmu!

Referensi pihak ketiga

Nah, ketika dirimu diimpikan mati, apa yang harus kamu lakukan, Kawan? Inilah jawabanku: Siapa takut? Beryukurlah! Kalimat ini kuucapkan kepada sahabatku, Alvons, yang pagi ini datang ke ruangan kerjaku di Ruang Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata, Alvon Ponco Hadi HC, S.Kom, MM adalah Kepala Biro Administrasi dan Akademik Unika Soegijapranata Semarang. Dia juga sahabatku sejak dua puluh enam tahun silam. Dia datang ke ruanganku dengan tujuan utama memintaku untuk memimpin doa acara Wisuda yang akan dilaksanakan tanggal 28 April 2018. Namun, kebetulan saya tidak bisa, sebab saya sudah terlanjur terjadwal untuk acara bersama PCNU Lamongan dalam rangka kerukunan dan persaudaraan sejati di sana.

Referensi pihak ketiga

Omong punya omong, tiba-tiba Alvons bertanya tentang bagaimana kondisi diriku sesudah menjalani perawatan beberapa waktu sebelumnya. Saya jawab bahwa saya baik-baik saja. Saya dalam proses menuju sehat! Lalu dengan agak hati-hati, Alvons mengatakan bahwa dirinya merasa heran sebab semalam – katanya – dia bermimpi, saya mati. Mendengar cerita itu, saya langsung berteriak: Puji Tuhan! Siapa takut? Berarti saya akan diberi umur panjang! Mendengar reaksiku, Alvons tertawa. Kami tertawa. Saya pun lantas mengatakan kepadanya, kecuali bila kamu memimpikan saya sedang menyelenggarakan pesta besar…, nah, segera beritahu saya. Itu berarti tanda justru saya akan mati. Maka, kalau kamu memberitahuku, saya akan tenang dan bersyukur menghadapi kematian itu dengan sukacita.

Referensi pihak ketiga

Menurutku, hanya dengan cara seperti itu, kita bisa menghadapi kematian dengan bahagia. Mengapa? Karena kematian adalah jalan terakhir menuju kehidupan baru yang disediakan kepada siapa saja yang mengandalkan rahmat dan kekuatan kasih kerahiman Tuhan. So, jangan takut menghadapi kematian! Bersyukurlah! Namun juga bersyukurlah di saat seseorang memimpikan bahwa kamu mati, sebab itu justru pertanda sebaliknya, bahwa hidupmu akan diberkati dengan umur panjang. Jadi, persiapkanlah diri berbuat baik sebanyak-banyaknya, sambil terus dalam kerendahan hati berserah kepada Tuhan. Biarlah tangan-Nya menggunakan tanganmu untuk melakukan karya kasih dan kerahiman-Nya di dalam kehidupanmu.

Referensi pihak ketiga

Begitu Kawan! Semoga refleksi sederhana ini menginspirasi dan memotivasi kamu untuk tetap semangat dalam menghadapi kehidupan ini. Cepat atau lambat kita akan mati. Selagi masih ada waktu, mari kita berbuat baik, melakukan tindakan kasih dan kerahiman, membangun peradaban kasih di mana pun berada. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkatimu!***

Kampus Ungu Semarang, 20/4/2018.

Sumber: refleksi dan opini pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3344942359410730?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.