Inspiration

Tertangkap Basah Berbuat Zinah, Wanita Itu Seharusnya Mati, Namun Apa Yang Justru Terjadi?

Sahabat Peradaban Kasih UC News terkasih. Adalah sebuah kisah kerahiman dan pengampunan, yang tampaknya terlalu mustahil, namun nyatanya berhasil. Kisah kerahiman dan pengampunan itu terjadi dalam kasus perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah. Ia seharusnya mati dilempari batu menurut hukum yang berlaku. Namun apa yang terjadi? Di luar dugaan, justru karena kerahiman dan pengampunan. Seperti apa kisahnya?

Referensi pihak ketiga

Ketika hari masih pagi, bahkan disebutkan pagi-pagi benar, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada Lelaki itu, seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menyeret dan menempatkan perempuan itu di tengah-tengah banyak orang, lalu mereka berkata kepada Lelaki itu, “Lihat! Perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Menurut hukum Taurat perempuan-perempuan yang demikian harus dilempari batu sampai mati. Apakah pendapatmu tentang hal itu?”

Referensi pihak ketiga

Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Lelaki itu, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkannya. Seperti makan buah simalakama, kalau Lelaki itu menjawab, “Silahkan lempari dia dengan batu-batu di tangan kalian!” maka mereka akan teriak lantang, “Nah loh, kamu tidak konsisten dengan ajaranmu tentang kasih dan pengampunan! Ternyata kamu cuman omong doang ya!” Itu dilema pertama, Masih ada dilema yang kedua, atas jawaban yang sama. Kalau sampai terjadi pelemparan batu terhadap perempuan itu sesuai dengan hukum yang berlaku, maka, pagi itu, pasti akan terjadi keributan massa di situ dan dengan mudah, semua orang akan menjadikan Lelaki itu sebagai provokator anarkhis. Dilema ketiga, kalau jawabannya negatif, “Jangan lempari dia dengan batu…!” maka segera para ahli Taurat dan kaum Farisi itu akan berteriak lantang, “Nah, inilah pelanggar hukum Taurat. Menurut hukum Taurat, perempuan itu harus dilempari batu sampai mati, tetapi dia melarang kita melakukannya!” Ah, serba salah bukan?

Referensi pihak ketiga

Maka, dengan tenang, Lelaki membungkuk lalu menulis dengan jarinya di tanah. Entah apa yang dituliskannya. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepadanya, ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka dengan penuh wibawa, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Lelaki itu membungkuk pula dan menulis lagi di tanah. Setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka semua yang sudah kalap dan siap melemparkan batu kepada perempuan itu, seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Tak seorang pun di antara mereka yang sudah siap dengan batu di tangan mereka itu merajam perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah itu dengan batu-batu mereka.

Referensi pihak ketiga

Mengapa? Sebab menurut hukum mereka juga, sekiranya saat itu ada yang berani melemparkan batu pertama kali kepada perempuan itu, pasti dialah yang akan justru akan dilempari batu sampai mati oleh sebab terperangkap pada kalimat bijaksana Lelaki itu, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Nah, menurut hukum mereka, orang yang menyatakan dirinya tidak berdosa, maka ia pun harus dilempari batu sampai mati! Nah loh, mereka kena batunya! Itulah sebabnya, mereka pergi satu per satu meninggalkan tempat itu, tanpa seorang pun berani melemparkan batu kepada perempuan yang tertangkap basah berzinah itu!

Referensi pihak ketiga

Akhirnya tinggallah Lelaki itu seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Lelaki itu bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tu(h)an.” Lalu kata Lelaki, “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Bdk. Yoh 8:2-11) Kalimat terakhir itulah yang mengubah kehidupannya!

Referensi pihak ketiga

Dan kamu tahu, siapakah Lelaki itu? Dia adalah Yesus, yang datang dengan pesan pertobatan dalam kasih kerahiman, bukan dengan menghakimi dan menghukum orang berdosa, melainkan mencari dan menyelamatkannya. Di hadapanNya, perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah itu laksana lumpur comberan yang diubah menjadi mutiara santa oleh kerahiman-Nya! Betapa mudah kita menyalahkan dan menghakimi orang lain. Sikap seperti itu bukan sikap yang mencerminkan rahmat dan damai, kasih dan kerahiman!

Demikian. Semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Salam kerahiman. Terima kasih. Tuhan memberkatimu.***

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3316072573234025?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.