Inspiration

Merinding! Kisah Inspiratif Di Balik Ziarah Kubur Mbah Alun Di Desa Pancasila Balun

Sahabat peradaban kasih yang terkasih. Saya sungguh merinding saat menuliskan refleksi atas ziarah kubur yang kualami berlandaskan kasih, persahabatan dan kerukunan dalam keberagaman di Desa Balun yang disebut Desa Pancasila. Ziarah kubur itu membuatku merinding dan mengerti serta terinspirasi mengapa desa itu disebut Desa Balun? Kutemukan pula jawaban spiritual mengapa Balun disebut Desa Pancasila?

Referensi pihak ketiga

Pertama, ternyata, nama Balun erat terkait dengan seorang tokoh yang hingga saat ini dikenal sebagai Mbah Alun. Beliau adalah seorang raja yang rendah hati dalam segala kesulitannya dan menjadikan hidupnya sebagai sumber inspirasi kerukunan dan toleransi. Ketika masih kecil, Mbah Alun dikenal dengan sebutan Raden Alun. Beliau dibesarkan di Lamajang dan Kedhawung. Pada tahun 1589, Raden Alun dititipkan oleh ayahnya untuk mengaji kepada Sunan Giri. Tahun 1624 Raden Alun dilantik menjadi raja Lamajang Kedhawung dan bergelar Sunan Tawangalun. Dalam perjalanan waktu, karena kejaran Belanda kala itu, Sunan Tawangalun melarikan diri ke wilayah Lamongan yaitu di desa Candipari yang kini disebut Desa Balun. Di sinilah, Sunan Tawangalun berdakwah Islam sebagai rahmatan lil alamin hingga wafatnya pada usia 80 tahun, 1654. Beliau dikenal sebagai seorang Waliyullah yang sangat toleran. Inilah salah satu hal yang menginspirasi mengapa Balun menjadi Desa Pancasila.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Saya sudah merasa merinding saat melangkah memasuki kompleks makam Mbah Alun, inspirator Islam toleran di Balun. Mas Lukas Awi memotretku dari belakang.

Keduakeberagamaan Mbah Alun atau juga sering disebut Sin Arih dilandasi oleh kedalaman iman Islam rahmatan lilalamin. Beliau menguasai ilmu Laduni, Fiqh, Tafsir, Syariat dan Tasawuf. Itulah yang membuat hidupnya dikenal tegas, kesatria, cerdas, alim, arif, dan persuatif. Beliau terkenal dengan sifat toleransinya terhadap orang lain, terhadap budaya lokal dan terhadap umat beragama lain. Itu pulalah spirit dasar Balun sebagai Desa Pancasila trikerukunan Islam, Hindu dan Kristen.

Ketiga, terinspirasi oleh sifat toleran penuh kasih dalam keberagaman itulah, maka saya sangat terharu dalam kegembiraan (merinding) boleh berkunjung ke Desa Balun dan secara khusus berziarah kubur ke makam Sunan Tawangalun (Raden/Mbah Alun). Di itu pun saya ngalap berkah (menimba barokah) agar boleh tetap gembira membangun peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaan kita.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Sesudah berdoa di Makam Mbah Alun saya selfie saja. Masih dalam suasana merinding namun penuh syukur

Demikian refleksi dan permenunganku tentang kisah inspiratif Mbah Alun yang menginspirasi lahirnya Desa Balun sebagai Desa Pancasila. Semoga kisah ini pun menginspirasi dan memotivasi kamu dalam menghayati iman yang toleran, apa pun agama dan kepercayaan kita. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Lamongan, 29/4/2018

Sumber: refleksi pribadi atas ziarah kubur di makam Mbah Alun dan terinspirasi data dari Mus Purmadani dalam penerbit-menara-madina.blogspot.co.id/2013/12/prabu-tawang-alun.html?m=1

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2237776617385755?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.