Inspiration

Kawan, Kasih Itu Mulai Dari Diri Sendiri, Lalu Kepada Sesama Dan Memuncak Kepada Tuhan

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Tak sedikit di antara kita yang beranggapan bahwa kasih kepada Tuhan itu tak ada hubungannya dengan kasih kepada diri sendiri dan kepada sesama. Inilah jawaban inspiratif yang memotivasi kita untuk mengasihi diri sendiri, sesama dan Tuhan. Seperti apakah?

Referensi pihak ketiga

Jawaban inspiratif tentang tiga level kasih, yakni kasih kepada diri sendiri, sesama dan Tuhan disampaikan oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Semarang, dalam homilinya di hadapan ratusan peserta Misa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata (Rabu, 16/5/2018) di Sukasari Katedral Semarang. Dengan penuh kasih pula, jawaban itu diterangkan sambil terus membangun dialog dengan para peserta yang nota bene disebut ABK. Namun, mereka dengan penuh semangat merespon homili yang disampaikan oleh Mgr. Rubi.

Referensi pihak ketiga

Kepada para peserta Misa ABK, Mgr. Rubi menerangkan. Ada tiga level kasih yang selalu kita alami dan hayati. Pertama, kasih kepada diri sendiri. Kedua, kasih kepada sesama. Ketiga, kasih kepada Tuhan. Apa pun keadaan kita, kita harus tetap mengasihi diri kita sendiri. Hanya dengan mengasihi diri sendiri, maka kita bisa mengasihi sesama kita. Dan ketika kita bisa mengasihi diri sendiri dan sesama kita, maka puncaknya, kita bisa mengasihi Tuhan, yang mungkin tak pernah kita lihat dengan mata kepala kita.

Referensi pihak ketiga

Contoh kasih yang hebat dengan segala pengorbanan yang ada adalah kasih Tuhan sendiri. Kasih Tuhan yang seperti itu, saat ini juga dihayati oleh para orangtua yang dengan segala kesabaran dan kasih, kesetiaan dan penyerahan diri kepada Tuhan, menerima, merawat dan mengasihi anak-anak yang dianugerahkan Tuhan, meski mungkin secara fisik dan psikis disebut ABK. Justru di sanalah, kasih kita diuji.

Referensi pihak ketiga

Begitulah pokok-pokok gagasan inspiratif yang memotivasi saya juga dalam merenungkan kasih kepada diri sendiri, sesama dan Tuhan. Semoga pokok-pokok gagasan homili itu juga menginspirasi dan memotivasi para Sahabat Peradaban Kasih dalam menghayati kasih di tengah kehidupan sehari-hari. Terima kasih Bapak Uskup Mgr. Rubi, atas peneguhan inspiratif yang memotivasi dan menguatkan kami untuk tetap sabar, setia dan bertahan di dalam mengasihi diri sendiri, sesama dan Tuhan. Semoga gagasan inspiratif itu juga bermanfaat bagi siapa saja yang membaca refleksi ini. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Unika Soegijapranata, 17/5/2018.

Sumber: refleksi pribadi bedasarkan homili Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam Misa ABK di Sukasari Katedral Semarang (16/5/2018).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2296571755618182?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.