Inspiration

Bukan Soal Berlambat-lambat Dalam Kemalasan, Melainkan Tentang Kesabaran Dan Kebijaksanaan

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Banyak orang sering salah mengerti kearifan lokal dari falsafah Jawa berikut ini. Manakah kearifan lokal itu? Bagaimana harus dijelaskan dimengerti dengan baik sehingga menjadi kearifan pula bagi siapa saja yang mau menghayatinya?

Referensi pihak ketiga

Kita sering mendengar kearifan lokal falsafah Jawa ini. Alon-alon waton kelakon. Namun jangan salah mengerti dan salah sangka. Kearifan lokal ini, tidak mengajak kita untuk bersikap berlambat-lambat atau terjebak dalam kemalasan. Memang, kearifan lokal ini, Alon-alon waton kelakon kalau diterjemahlan secara harafiah ke dalam bahasa Indonesia berarti pelan-pelan asal terlaksana. Namun tidak berarti bahwa kita diajak untuk bersikap lambat dan malas, tidak!

Referensi pihak ketiga

Justru di balik kearifan lokal ini ada pesan mendalam untuk kehidupan kita agar bersikap sabar dan bijaksana. Maka, alon-alon waton kelakon mengajak kita untuk bersikap sabar dan bijaksana. Makna terdalam dari kearifan lokal ini adalah mengajak kita bertindak dengan hati-hati, cermat, jeli, dan penuh kesabaran. Tujuannya adalah keselamatan hidup kita. Maka, alih-alih berlambat-lambat dalam kemalasan, kearifan lokal ini justru mengajak kita semua memiliki kesabaran dan kebijaksanaan, sehingga segala sesuatu yang kita kerjakan dapat terlaksana dengan baik dan mendatangkan kesejahteraan serta keselamatan. Segala sesuatunya terlaksana tak hanya asal terlaksana, melainkan terlaksana dalam segala kebaikan, karena dilaksanakan berdasarkan kesabaran dan kebijaksanaan.

Begitulah Sahabat Peradaban Kasih makna dari kearifan lokal falsafah Jawa ini. So, jangan salah tangkap dan salah mengerti ya. Nah, kalau sudah tahu makna terdalamnya, yuk, kita praktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kerjakanlah segala sesuatunya dengan segala kesabaran dan kebijaksanaan maka yang kamu kerjakan akan berbuah kebaikan, keadilan, kesejahteraan dan bahkan keselamatan bagi semakin banyak orang.

Referensi pihak ketiga

Nah, di situlah peradaban kasih dibangun dan diwujudkan. Salam peradaban kasih. Terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan memberikan komentar dan tanggapan. Boleh juga dan terima kasih berkenan membagikan artikel ini kepada siapa pun agar bermanfaat. Tuhan memberkati kita semua dengan kesabaran dan kebijaksanaan.***

Kampus Ungu Unika Semarang, 22/6/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi kearifan lokal falsafah Jawa Alon-alon waton kelakon.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4356517831314956?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.