Inspiration

Inspirasi Merawat Kebangsaan Berbasis Nilai Kearifan Lokal, Tak Hanya Bicara Buktikan Saja

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Falsafah Jawa yang sesuai untuk menginspirasi kehidupan bersama dalam rangka merawat kebangsaan berbasi nilai-nilai kearifan lokal sering kita dengar bahkan kita lakukan dalam hidup sehari-hari. Memang, kearifan lokal ini kadang terasa mulai pudar, namun tak akan pernah hilang lenyap, sebab itulah hakikat kehidupan bersama dalam merawat kebangsaan. Seperti apakah?

Referensi pihak ketiga

Begini bunyinya: Sayuk rukun agawe santosa, sayuk rukun saiyeng saeka praya. Apa artinya? Inspirasi kearifan lokal itu berpusat pada sikap rukun yang memperteguh, rukun bersama menggapai satu tujuan, yakni kesejahteraan. Kearifan lokal itulah yang melandasi seluruh permenungan yang saya sampaikan pada kesempatan FGD (focus group discussion) yang diselenggarakan oleh ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia) Korda Jateng pada rangkaian acara Dies Natalis ISKA ke-60 dan menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-73. FGD diselenggarakan di Ruang Petra Hotel Noormans Semarang (25/6/2018), pukul 09.00 – 13.00 WIB. FGD berfokus pada tema “Merawat Kebangsaan Berbasis Pada Nilai-Nilai Kearifan Lokal.”

Kita hanya bisa merawat kebangsaan berbasis pada nilai-nilai kearifal lokal bila kita juga menyadari pentingnya sayuk rukun saiyeg saeka praya. Bahasa kerennya, bersinergi dengan siapa saja dalam keberagaman untuk membangun kehidupan bersama dalam rangka mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaannya. Semangat itu hanya bisa diwujudkan saat kita mau srawung, bersilaturahmi, bersinergi dan bekerjasama dengan siapa saja untuk membangun bangsa.

Referensi pihak ketiga

Nah, dalam rangka itu, strategi seni dan budaya bisa ditempuh untuk menggerakkan dan melibatkan siapa saja, mulai dari tingkat akar rumput hingga para pemimpin dan pejabatnya. Kehidupan berbangsa pun akan dirawat bersama karena menyangkut kepentingan hidup bersama. Untuk itu, dibutuhkan kedalaman semangat dan sikap religius yang bukan eksklusif bermental gettho, melainkan semangat dan sikap hidup religius yang interreligius. Semakin kita interreligius, semakin pula kita religius dalam keberagaman sehingga mengembangkan paradigma positif sayuk rukun saiyeg saeka praya, sayuk rukun kang agawe santosa.

Merawat kebangsaan berbasis pada kearifan lokal itu ibarat menyalakan sebatang lilin kecil di tengah kegelapan, jauh lebih bermanfaat daripada mengutuki kegelapan. Dan itu membutuhkan kebersamaan, sinergi, kerjasama multikultural. Dengan demikian, merawat kebangsaan berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal tak perlu dilakukan dengan methentheng-mencereng dalam kemarahan, melainkan dengan keramahan dan kasih sayang.

Referensi pihak ketiga

Begitulah ringkasan dan inti gagasan yang kusampaikan dalam rangka merawat kebangsaan berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal. Perawatan hidup berbangsa dilaksanakan dalam sukacita dan kegembiraan melalui srawung, silaturahmi, penuh rasa syukur dengan siapa saja di mana saja. Gagasan itu tak hanya perkataan, melainkan ditopang dengan berbagai tayangan dokumenter gerakan nyata Kom HAK KAS selama ini melalui strategi seni budaya merawat kebangsaan di berbagai tempat.

Demikian, semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih kepada rekan-rekan ISKA Jateng (Sentot Suciarto, PhD dkk) yang memberikan kepercayaan kepadaku untuk berbagi inspirasi cara merawat kebangsaan berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal dari sisi interreligiositas. Tuhan memberkati kita semua.***

Semarang, 25/6/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/705004823496119?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.