Inspiration

Mudahnya Menilai Kesalahan Kecil Orang Lain Padahal Kesalahan Sendiri Lebih Besar, Bisa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Kearifan lokal falsafah Jawa ini menohon siapa saja yang gampang menilai kesalahan kecil orang lain padahal kesalahan sendiri lebih besar. Maka muncullah dua falsafah ini. Yang manakah? Apa maknanya?

Referensi pihak ketiga

Pertamajajal ambunen sikutmu dhewe. Sebuah tantangan bagi yang suka nyinyir melihat kesalahan kecil orang lain. Coba deh, ciumlah siku tanganmu sendiri! Duh, mana bisa? Sikut (siku tangan) kita berada satu rangkaian dekat dengan ketiak manusia. Nah, biasanya, ketiak jauh lebih berbau dibandingkan sikut. Maka, seharusnya lebih mudah mencium aroma tak sedap ketiak sendiri daripada mencium sikut yang tak terjangkau oleh hidung kita.

Keduangiloa githokmu dhewe. Bercerminlah pada punggungmu sendiri! Ini pun mustahil. Bahkan, dengan menggunakan cermin sekalipun, terasa sangat sulit. Inilah kearifan lokal yang mengajak siapa saja agar tak mudah menilai orang lain, sama seperti tak mudahnya menilai diri sendiri, apalagi terkait dengan kesalahan dan sikap menghakimi.

Referensi pihak ketiga

Apa maknanya? Falsafah ini mengajak siapa saja untuk rendah hati tak mudah menilai orang lain. Harusnya lebih mudah menilai diri sendiri. Namun betapa mudah kita menilai orang lain daripada diri sendiri? Ternyata, dua ribu tahun silam pun, dalam khotbah di bukit Yesus berkata, “Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang telah kalian pakai untuk menghakimi, kalian sendiri akan dihakimi. Dan ukuran yang kalian pakai untuk mengukur, akan ditetapkan pada kalian sendiri. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal di dalam matamu sendiri ada balok? Hai orang , keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu.” (Mateus 7:1-5)

Menilai kesalah kecil orang lain kadang-kadang menjadi hobi favorit orang tertentu atau bahkan banyak orang, bahkan mungkin termasuk hobi kita. Sangat mudah untuk melihat kesalahan dan cacat orang lain. Itulah yang bisa membuat seseorang merasa lebih superior. Padahal, memusatkan perhatian pada kesalahan orang lain seringkali hanya cara mengalihkan perhatian kita dari kegagalan kita. Alih-alih mudah menyalahkan dan menghakimi orang lain, melakukan introspeksi diri jauh lebih diperlukan, agar kita dimampukan membangun dan mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat kita yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaannya.Referensi pihak ketiga

So, mari kita lebih peka pada kekurangan-kekurangan dan kesalahan diri sendiri, daripada nyinyir gampang menyalahkan orang lain. Bagaimana menurut Sahabat Peradaban Kasih? Silahkan loh, memberikan komentar untuk memperdalam refleksi ini! Terima kasih. Salah peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 25/6/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3523923859034346?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.