Inspiration

Asyiknya Menempuh Jalan Semedi, Bagaimana Caranya Dan Untuk Apa? Cobalah!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Jalan semedi itu jalan keheningan untuk mengolah batin agar terarah selalu kepada Tuhan. Kearifan lokal ini ada di setiap kebudayaan, namun sangat istimewa dalam falsafah Jawa. Bagaimana penjelasannya? Kita simak saja yuk.

Referensi pihak ketiga

Ada ungkapan kearifan lokal Jawa neng ning nung nang. Neng berarti meneng, diam dan membangun sikap sembah raga. Ning berarti hening, wening atau sembah kalbu. Nung berarti sembah cipta, dari dua kata bisa dunung bisa kasinungan. Dunung berarti tempat berada dan kasinungan berarti mendapat anugerah atau rahmat tertentu dari Tuhan namun yang bersangkutan tetap eling lan waspada. Nang dari kata menang, kemenangan sebagai buah anugerah proses pencapaian keheningan. Mengasyikkan!

Itulah inti inspirasi dan motivasi neng ning nung nang. Mulai dengan diam, hening, tahu diri bahwa segalanya adalah anugerah, kita mencapai kemenangan mengalahkan diri sendiri demi berjumpa Tuhan yang selalu hadir menyertai kita. Neng ning nung nang dalam kearifan lokal ini dicapai misalnya melalui semedi (bertapa, matiraga dan puasa).

Referensi pihak ketiga

Ijinkan saya mengembangkan inspirasi neng ning nung nang dalam perspektif Katolik tentang makna keheningan. Seorang mistikus Katolik, Thomas Merton (1915-1968) mengatakan, “Dunia kita telah melupakan kegembiraan dalam kesunyian, kedamaian dalam keheningan, yang dalam kadar tertentu sangat dibutuhkan demi mencapai kepenuhan hidup manusia. Manusia tidak akan bahagia kecuali ia terhubung dengan mata air kehidupan rohani yang tersembunyi di dalam jiwa sendiri. Jika manusia terus-menerus terasing dari rumahnya sendiri, terkunci di luar kesendirian rohaninya, ia tak lagi menjadi manusia yang sejati.”

Seorang rahib dari Syria, menulis, “Jika kamu mencintai kebenaran, jadilah pencinta keheningan. Keheningan seperti sinar matahari yang akan menerangi kamu dalam Tuhan dan akan membebaskan kamu dari bayang-bayang ketidaktahuan. Pada awalnya, kita harus memaksa diri kita untuk hening. Namun kemudian, lahirlah sesuatu yang menarik kita kepada keheningan. Hanya bila kamu melakukan hal ini, cahaya yang terang benderang akan terbit bagimu sebagai akibatnya dan beberapa waktu kemudian sebuah kegembiraan akan lahir di jantung latihan rohani ini dan tubuh akan tertarik untuk tetap dalam keheningan.”

Referensi pihak ketiga

Kahlil Gibran (1883-1931) bilang: Kamu berbicara ketika kamu tidak lagi merasa tenang dengan pikiranmu dan ketika kamu meninggalkan keheningan hatimu, kamu hidup di dalam kata-kata dan suara menjadi pelarian serta pengisi waktu.”

Lalu apa yang dimaksud dengan keheningan? Keheningan itu bukan soal mengatur lidah dan bibir untuk tidak berbicara, melainkan perkara mengatur telinga. Untuk bisa hening kita harus membuka telinga demi menangkap sesuatu dan merasakannya dan itu adalah Tuhan, yang bisa ditemukan dalam segala sesuatu.

Referensi pihak ketiga

Tetap saja mengasyikkan menempuh jalan semedi, melalui neng ning nung nang demi menggapai keheningan agar kita mengalami kehadiran Tuhan dalam setiap peristiwa hidup kita sehari-hari. Prinsipnya, apa pun agama dan kepercayaan kita, manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Tuhan.

Demikian, terima kasih.. Salam peradaban kasih. Tahan memberkati kita semua.***

Muntilan, 11/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi falsafah Jawa dan Mencari Tuhan dalam Segala (2013:1-7)

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2489883156917030?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.