Inspiration

Barokahnya Bekerja Tanpa Pamrih Demi Kesejahteraan Bersama, Seperti Apa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Giat bekerja dan saling menolong tanpa pamrih untuk memelihara alam semesta adalah panggilan kita semua. Kearifan lokal falsafah Jawa memberi inspirasi dan motivasi kepada kita tentang hal ini. Kita simak bersama yuk.

Referensi pihak ketiga

Rame ing gawe sepi ing pamrih, memayu hayuning bawana. Giat bekerja dan saling membantu tanpa pamrih, memelihara alam semesta. Nah, itu rumusannya beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Bagaimana hal itu bisa diterangkan?

Rame ing gawe tidak sama dengan suasana brisik penuh kata-kata hampa. Rame ing gawe juga bukan keributan dan kegaduhan omong kosong. Maka yang ditekankan di sini terutama adalah bekerja bersama saling menolong untuk kesejahteraan bersama. Siapa saja saling bahu-membahu bekerja untuk kepentingan bersama. Kata lain dari itu adalah praktek bergotong-royong. Nah, Pancasila banget tuh. Perasan paling inti Pancasila adalah gotong royong. Menurutku, itulah makna rame ing gawe yang paling mendalam.

Referensi pihak ketiga

Kerja sama dan kerja bersama itu dilakukan dengan rela gembira, bukan dalam keterpaksaan. Karena itu sepi ing pamrih. Artinya, semua bekerja tanpa berorientasi pada kepentingan diri sendiri melainkan demi kepentingan bersama. Bekerja tanpa pamrih itu bekerja tanpa mencari pujian tetapi bekerja dengan ikhlas. Jauh dari pencarian diri sendiri apalagi sikap koruptif.

Sekarang ini, cara dan semangat kerja seperti ini sedang kita butuhkan. Terlebih dalam rangka menjaga kelestarian alam semesta, kita harus bekerja bersama. Banyak contoh bisa dilakukan, misalnya, dengan menanam pohon demi tersedianya udara dan air bersih. Itu cara paling sederhana bekerja bersama dalam rangka memelihara alam semesta. Menata lingkungan alam, tidak merusak bumi, menjaga kebersihan sungai, dan membangun infrastruktur untuk kesejahteraan tanpa mengabaikan tata lingkungan dan kemanusiaan. Itulah memayu hayuning bawana.

Referensi pihak ketiga

Demikianlah pemaknaanku atas kearifan lokal dalam permenungan spontan dan sederhana. Semoga tidak melenceng dari makna sesungguhnya. Nah, kalau ada di antara para Sahabat Peradaban Kasih yang memiliki pemaknaan yang berbeda dari pemaknaan saya, dengan senang hati saya akan menerima dan mendiskusikannya. Silahkan dituliskan di kolom komentar. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 1/7/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/846469441381546?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.