Inspiration

Betapa Indahnya! Ternyata, Sejak Lahir Hingga Mati, Sedulur Sejati Selalu Bersama Kita

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Menarik sekali merenungkan konsep kearifan lokal tentang sedulur sejati. Sedulur sejati setiap pribadi manusia itu minimal ada empat yang selalu melekat. Bagaimana penjelasannya dan apa maknanya?

Referensi pihak ketiga

Keempat sedulur sejati itu terdiri dari air ketuban, ari-ari, tali pusar dan darah bunda kita yang kesemuanya mengiringi kelahiran setiap manusia. Sedulur sejati setiap orang itu dalam falsafah Jawa disebut kakang kawah adhi ari-ari. Kakang kawah adalah air ketuban yang pecah mengawali kelahiran setiap manusia. Maka disebut kakang (kakak). Sesudah kelahiran kita keluarlah ari-ari (tembuni), maka, disebut adhi (adik). Seiring dengan itu darah bunda mengalir menyertai setiap bayi yang lahir. Hingga usia lima hari, pada pusar (pusat) bayi masih menempel tali pusar, sesudah itu terlepas sendiri. Tali pusar itu merupakan sisa ari-ari yang sesudah dipotong masih menempel pada pusat perut kita. 

Referensi pihak ketiga

Itulah fakta alamiah dasar falsafah Jawa mempunyai konsep sedulur sejati kakang kawah adhi ari-ari. Keempat sedulur sejati itu dikubur sesaat sesudah kelahiran kita di sekitar area rumah kita. Falsafah Jawa mengajarkan bahwa kendati mereka sudah dikubur, namum mereka masih menyertai masing-masing kita. Dalam keempat sedulur sejati itu dihadirkan simbolisme dalam warna dan maknanya. Kakang kawah berwarna putih, lambang tuntunan kepada kebaikan dan kesucian. Darah tentu berwarna merah melambangkan tekad dan keberanian. Adhi ari-ari berwarna kuning melambangkan harapan, cita-cita dan keinginan kita akan keadilan dan kebaikan. Pusar diberi warna hitam melambangkan hasrat manusiawi dan dorongan nafsu dalam diri, bisa merusak bisa membentengj diri tergantung cara kita mengelolanya.

Referensi pihak ketiga

Begitulah keempat sedulur sejati itu akan selalu menyertai hidup kita dalam situasi dan kondisi apa pun. Mereka bersama kita dalam suka duka, senang susah, sejahtera maupun sengsara. Mereka melingkupi kita sebagai Papat Kadang Lima Pancer. Dalam arah mata angin dan pusat kehidupan alamiah, mereka menjadi panduan Papat Kiblat, Lima Pancer. Pada akhir hidup kita, mereka akan kembali bersama kita menuju keabadian persatuan dengan Sang Pencipta.

Referensi pihak ketiga

Begitulah sejak dari kelahiran hingga kematian, manusia tak pernah sendirian sebab ada sedulur sejati yang selalu menyertai. Dari lahir hingga mati pula, manusia tak pernah sendiri, selalu ada bersama dengan, minimal, sedulur sejati. Harapannya, selama hidup di dunia pun, manusia bisa membangun persaudaraan sejati dengan siapa saja untuk srawung dan mewujudkan peradaban kasih. Demikian, salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semu.***

JoharT Wurlirang, 6/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Ilmu Slamet (2010:116-117)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4413064020677486?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.