Inspiration

Curiga Manjing Warangka, Warangka Manjing Curiga, Bukan Soal Nalar Tetapi Naluri, Mengapa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Dalam permenungan tentang konsep pitutur luhur kearifan lokal falsafah Jawa manunggaling kawula Gusti (lihat tz.ucweb.com/7_2sR85), kita sudah menyebut bahwa konsep itu juga berisi metafora relasi antara pemimpin (gusti) dan rakyat (kawula). Pemimpin dan rakyat harus manunggal dalam keharmonisan demi kebaikan, keadilan, dan kesejahteraan. Ternyata, masih ada konsep lain yang juga menggambarkan hal serupa loh. Seperti apakah? Kita simak yuk!

Referensi pihak ketiga

Kearifan lokal itu dirumuskan begini. Curiga manjing warangka, warangka manjing curiga. Apa maksudnya? Curiga itu keris. Manjing adalah masuk. Warangka adalah wadah keris yang disebut “sarung keris”. Nah, curiga manjing warangka berarti keris masuk ke dalam sarungnya; sedangkan warangka manjing curiga adalah sebaliknya, sarung keris masuk ke dalam kerisnya. Tentu kalau dipikir dengan nalar yang kedua itu tidak masuk akal. Namun ingat, ini bukan soal nalar, melainkan naluri. Bukan soal akal melainkan spiritual. Bukan soal pikiran manusiawi, melainkan soal rasa rohani.

Dalam konsep ini, keris adalah lambang sang pemimpin. Warangka adalah lambang rakyat. Normalnya, keris dan warangka itu satu rangkaian yang pas. Warangka dan keris seukuran selaras. Kalau kerisnya lebih panjang dari warangka, maka keris tidak akan terpandang indah. Kalau warangkanya kecil, sedangkan kerisnya terlalu besar, maka akan sesak. Warangka kecil, ya dimasuki keris kecil biar pas. Namun, ukuran-ukuran panjang pendek, besar kecil ini bukan ukuran nyata, melainkan metafora dan lambang.

Referensi pihak ketiga

Nah, yang termuat dalam kearifan lokal itu adalah harapan, doa, dan kerinduan agar pemimpin dan rakyat itu memiliki hubungan manunggal yang selaras dan harmonis. Pemimpin memahami aspirasi rakyatnya. Rakyat mendapatkan inspirasi dan motivasi dari pemimpinnya untuk melangkah maju bersama dalam kehidupan yang damai, adil dan sejahtera. Karena itu, relasi antara pemimpin dan rakyat harus pas dan selaras. Keselarasan antara pemimpin dan rakyat harus terjadi demi terwujudnya kedamaian, keadilan, kesejahteraan dan peradaban kasih.

Keselarasan itu juga tampak dalam sikap saling mendengarkan dalam semangat dialogis; bukan monolog masing-masing omong sendiri tanpa saling dengarkan. Pemimpin biasanya paling susah mendengarkan rakyat atau bawahan; apalagi pemimpin yang arogan. Idealnya, relasi pemimpin dan rakyat ibarat relasi antara Sang Gembala dan kawanan domba. Sang Gembela mendengarkan suara dombanya, dan domba-domba pun mengenal suara Sang Gembala. Karena itu, domba-domba tak akan pernah tertipu oleh gembala-gembala palsu yang datang bukan untuk menggembalakan domba-domba ke padang rumput yang hijau, melainkan justru akan membantai dan menyembelih domba-domba untuk memenuhi hasrat tamak dan rakus si gembala palsu!

Referensi pihak ketiga

Begitulah makna konsep curiga manjing warangka, warangka manjing curiga. Menurut hemat saya, konsep itu juga bisa terapkan dalam rangka kehidupan bersama. Kalau di antara sesama umat manusia – tak harus antara pemimpin dan rakyat – bisa hidup dalam situasi harmonis, pas dan selaras, hidup akan indah. Peradaban kasih akan terwujud di masyarakat kita.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 5/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:80)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2032024263057768?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.