Inspiration

Dahsyatnya Konsep Manunggaling Kawula Gusti, Semua Demi Kebahagiaan Manusia, Istimewa!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Puncak dari kearifan lokal falsafah Jawa ada dalam pitutur luhur ini. Kira-kira apa ya? Mari kita simak dan renungkan.

Referensi pihak ketiga

Puncak pitutur luhur yang merupakan kearifan lokal falsafah Jawa terungkap dalam konsep manunggaling kawula Gusti. Secara harafiah, konsep ini berarti persatuan antara manusia dengan Tuhan. Apa maksud dan maknanya?

Pertama, manunggaling kawula lan Gusti merupakan gambaran tentang relasi antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Pada umumnya, cara pandang kasepuhan masyarakat Jawa masih menghayati konsep ini. Manunggaling kawula Gusti merupakan aktualisasi personal spiritual dalam menjalin relasi antara manusia Jawa dan Tuhan.

Kedua, manunggaling kawula Gusti merupakan juga pemahaman mistik spiritual tentang persatuan manusia dan atau dengan Tuhan. Persatuan itu tidak dalam rangka fisik, melainkan spiritual. Persatuan itu bukan sebagai persatian lebur sehingga tak jelas lagi jati diri manusia dan Jatidiri Tuhan. 

Referensi pihak ketiga

Ketiga, manunggaling kawula Gusti adalah metafora. Metafora itu untuk menggambarkan keharmonisan baik keharmonisan antara manusia dan Tuhan maupun keharmonisan antara rakyat dengan pemimpin. Dalam falsafah Jawa kata Gusti memiliki tiga arti. Gusti bisa berarti Tuhan, raja (pemimpin) dan roh (suksma) manusia. Itulah sebabnya, manunggaling kawula Gusti bisa berarti relasi harmonis antara pemimpin (Gusti) dan rakyat (kawula). 

Keempat, harmoni persatuan manusia dan Tuhan selalu tertuju pada kebaikan, kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Dalam hal ini, salah satu Sabda Kehidupan bisa membantu permenungan kita. Dalam rangka persatuan yang menghasilkan kebaikan, kebahagiaan dan kesejahteraan, persatuan manusia dan Tuhan itu laksana persatuan pokok anggur dan ranting-rantingnya. Persatuan itu membuat ranting-ranting pokok anggur menghasilkan buah berlimpah. 

Referensi pihak ketiga

Akhirnya, seperti dipahami R. Ranggawarsita dalam Suluk Saloka Jiwa, manunggaling kawula Gusti itu laksana sesotya (permata) dan embanan (wadahnya). Tuhan bersemayam dalam diri manusia dan manusia tinggal di dalam Tuhan. Laksana Sabda Kehidupan: tinggallah dalam Aku dan Aku dalam kamu, begitulah manunggaling kawula Gusti terjadi.

Demikian permenungan tentang manunggaling kawula Gusti. Semoga bermanfaat dan mendorong kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Semoga kita dianugerahi rahmat persatuan harmonis dengan Tuhan hingga mengalami kebaikan, kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia maupun di akhirat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 4/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:246) dan Mistik Kejawen (2018:45-46)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4229868013040185?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.