Inspiration

Diam Demi Kasih Itu Pilihan, Tapi Bukan Karena Dendam, Anda Bagaimana?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Dadia banyu emoh nyawuk; dadio godhong emoh nyuwek. Ini adalah dua pitutur luhur yang saya gabung menjadi satu. Pada dasarnya dua kearifan itu bisa berdiri sendiri. Namun karena artinya serupa, maka bisa pula disebut bersama. Apa arti dan maknanya? Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Secara positif, pitutur luhur itu bisa dibahasakan demikian. Diam dan tak mau ribut demi kasih itu suatu pilihan. Namun itu bukan karena dendam dan apalagi sikap merendahkan, jangan! Inilah contoh kisahnya.

Pada suatu hari, Kang Mitra merasa tersakiti oleh Lik Mukiya. Karena luka dan derita yang ditimbulkan akibat peristiwa itu, Kang Mitra sebagai korban merasa tidak perlu memperpanjang masalah. Maka, ia lebih memilih diam. Maka Kang Mitra bilang dalam hatinya: Dadia banyu emoh nyawuk; dadio godhong emoh nyuwek. 

Referensi pihak ketiga

Itu makna asli pitutur itu. Hasrat menjaga martabat hingga tak mau ribut. Toh Lik Mukiya tak akan pernah memahami duduk perkaranya dan akan selalu merasa benar sendiri. Maka, dari sisi Kang Mitra, pitutur itu luhur karena menjadi suatu gerakan ahimsa, anti kekerasan dan mengalah saja.

Namun, pitutur itu bisa menjadi kabur dari sisi Lik Mukiya. Ia menghayati pitutur luhur itu sebagai sikap dendam. Bahkan bisa cenderung meremehkan dan merendahkan Kang Mitra. Ia tidak mau srawung karena merasa diri paling benar dan dengan sikap sengit kepati-pati saudara kembar dendam kesumat.

Referensi pihak ketiga

Nah, dengan pitutur luhur ini kita bisa belajar. Diam demi kasih itu pilihan, tapi bukan karena dendam! Kalau memang ada soal ya dibicarakan baik-baik. Kalau pun sudah ada upaya pembicaraan baik-baik toh tidak memberi solusi, ya sudah, tak usah melakukan kekerasan, tapi juga tak perlu saling menyimpan dendam. Pilihlah jalan perdamaian!

Demikian, semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Goa Maria Kerep Ambarawa, 8/7/2018,

Pada hari HUT ke-22 Imamatku.

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017: 81-82)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4079423638274664?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.