Inspiration

Indahnya Bekerjasama Sinergis Srawung Demi Peradaban Kasih Menurut Falsafah Jawa, Mengapa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inspirasi kearifan lokal falsafah Jawa ini memotivasi siapa saja untuk menyadari pentingnya bekerjasama sinergis dalam srawung demi terwujudnya peradaban kasih. Seperti apakah dan bagaimanakah penjelasannya? Inilah refleksi saya. Meski cukup panjang, kita simak bersama yuk.

Referensi pihak ketiga

Inspirasi kearifan lokal falsafah Jawa itu merupakan gabungan beberapa pitutur luhur. Saya rumuskan sebagai berikut. Memayu hayuning bawana asikap ambeg paramarta tanpa adigang adigung adiguna amrih tata tentrem kertaning raharja. Apa maknanya?

Begini. Sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS) saya bersyukur bahwa terjadi sinergi di antara KKPKC (Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan), PK4AS (Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang) dan Kom HAK dalam pertemuan para aktivis penggerak sosial Kemasyarakatan di lingkup KAS (14-15 Juli 2018) di Wisma Salam. Nah, saya mencoba membaca peristiwa ini dalam konteks kearifan lokal falsafah Jawa. Sinergi kolaboratif antara KKPKC, PK4AS dan Kom HAK KAS itu erat terkait dengan rangkaian falsafah Jawa memayu hayuning bawana asikap ambeg paramarta tanpa adigang adigung adiguna amrih tata tentrem kertaning raharja. Bagaimana inspirasi dan motivasi kearifan lokal falsafah Jawa itu bisa dijelaskan dan dipertanggungjawabkan?

Referensi pihak ketiga

Harmoni Toleransi Kultural Tantular

Dalam falsafah Jawa, inspirasi kearifan lokal itu dirangkum dalam prinsip harmoni toleransi kultural Tantular. Saya lebih lebih suka menyebut prinsip harmoni toleransi kultural Tantular daripada toleransi kultural Tantularisme. Ini semata-mata demi menghindari kata “isme” yang dalam paradigma sosial-religius cenderung memberi kesan negatif daripada positif. Apa itu prinsip harmoni toleransi kultural Tantular?

Prinsip ini dibangun berdasarkan inspirasi Empu Tantular pada zaman Majapahit. Intinya adalah persatuan dan kerukunan demi hidup bersama yang damai dan sejahtera. Dalam bahasa Sansekerta, rumusannya berbunyi sebagai berikut: sarva sastra prayojanam atma darsanam atau sarva sastra prayojanam tatwa darsanam. Paradigmanya bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Artinya, berbeda-beda tetapi tetap satu jua tanpa ada darma yang mendua karena keragu-raguan. Untuk itu, haruslah ada yang namanya saling mengerti, saling menghargai dan saling menghormati (bdk. Suwardi Endraswara, 2018:74) di antara umat manusia, apa pun agama, kepercayaan dan kebudayaannya.

Meminjam bahasa Benedict Anderson (200:1) sebagaimana dikutip Suwardi Endraswara (2018:75) itulah yang disebut sikap lapang dada (savoir vivre). Menurutku, sikap lapang dada bahkan tak berhenti pada toleransi melainkan lebih dari toleransi yakni saling pengertian, saling menghargai dan saling mengerti dalam cinta kasih (mutual love understanding). Watak dasarnya adalah keterbukaan, merangkul, membarui diri terus-menerus dan berdaya ubah bagi dan dalam hidup bersama. Muaranya adalah kehidupan yang harmonis dalam keberagaman. Itulah yang disebut memayu hayuning bawana asikap ambeg paramarta tanpa adigang adigung adiguna amrih tata tentrem kertaning raharja.

KKPKC memayu hayuning bawana melalui karya demi keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. PK4AS membentuk dan mendampingi para tokoh masyarakat asikap ambeg paramarta tanpa adigang adigung adiguna. Kom HAK KAS merajut dan membangun persaudaraan sejati amrih tata tentrem kertaning raharja dalam kasih, saling mengerti, menghargai dan menghormati semua pihak. Titik temu antara ketiganya adalah komunikasi dan dialog dalam sinergi dan kerja sama baik secara internal maupun eksternal.

Referensi pihak ketiga

Srawung Demi Peradaban Kasih

Semua paradigma itu dalam bahasa Ardas (Arah Dasar) KAS 2016-2020 dan RIKAS (Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang) 2016-2035 dibingkai dalam sikap inklusif, inovatif dan transformatif demi terwujudnya peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya. Peradaban kasih seperti ini tak akan pernah bisa diwujudkan tanpa adanya sinergi di tengah keberagaman yang multikultural. Sinergi itu dalam bahasa Jawa sehari-hari disebut srawung.

Srawung merupakan proses perjumpaan banyak pihak dalam semangat inklusif, inovatif dan transformatif. Srawumg itu saling merangkul dalam keterbukaan (inklusif), terus-menerus dalam suasana pembaharuan (inovatif) dan memiliki daya ubah yang positif (transformatif). Srawung yang seperti itulah yang diharapkan mampu menjadi jalan untuk mewujudkan peradaban kasih. Srawung seperti ini, menurutku hal ini memiliki dasar spiritual teologis yang kuat dalam Yohanes 3:16!

Indikasi terwujudnya peradaban kasih adalah kesejahteraan, kemartabatan dan keberimanan yang semakin mendalam dalam keterbukaan dan partisipasi sinergis dengan siapa pun. Maka, kerjasama demi terwujudnya keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan harus terus dilakukan dan dikembangkan (KPKC). Kerjasama demi tampilnya tokoh-tokoh kemasyarakatan (eksekutif, legislatif, yudikatif) yang rendah hati dan menjawab kebutuhan rakyat harus terus diupayakan (PK4AS). Kerjasama interreligius dan multikultural perlu terus diupayakan dalam berbagai kesempatan, ruang kebersamaan oleh siapa pun tanpa diskriminasi (Kom HAK) dan juga termasuk para aktivis KPKC dan PK4AS. 

Maka, srawung itu penting Bung! Bergerak keluar dari diri sendiri dalam semangat belarasa dan solidaritas untuk semua umat manusia dan keutuhan ciptaan semesta alam adalah langkah awal dari srawung demi peradaban kasih dalam tiga dimensi KKPKC, PK4AS dan Kom HAK KAS. Begitulah srawung menuju peradaban kasih dapat dicapai menimal melalui proses dinamis yang partisipatif sinergis dalam kerukunan dan kebersamaan yang damai. 

Akhirnya, dua pertanyaan menantang kita: Apakah yang bisa dilakukan dalam rangka mewujudkan sinergi itu dalam tataran praktis para aktivis dan akar rumput? Bagaimana praksis itu terus dikembangkan dari waktu ke waktu? 

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 14/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Mistik Kejawen (2018:74-76).

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3951072316193435?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.