Inspiration

Indahnya Mengalami Tuhan Dalam Diri Sendiri Dan Peristiwa Hidup Harian. Bagaimana Mungkin?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inspirasi kearifan lokal Jawa ini sangat mendalam untuk direnungkan. Namun harus berhati-hati membacanya sebab terkait dengan motivasi untuk mengalami dan merasakan (kehadiran) Tuhan dan itu melalui diri sendiri dan sesama manusia. Seperti apa? Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Rumusannya begini. Weruh marang Pangeran iku ateges wis weruh marang awake dhewe, lamun durung weruh awake dhewe, tangeh lamun weruh marang Pangeran. Dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai berikut. Memahami Tuhan berarti sudah memahami diri sendiri, jika belum memahami jati diri, mustahil akan memahami Tuhan. Apa maksudnya? Bagaimana dijelaskan dan dipahami?

Referensi pihak ketiga

Pemahaman akan Tuhan tak bisa lepas dari pemahaman atas jatidiri sendiri. Apa arti memahami Tuhan dan diri sendiri? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya tertarik dengan kisah pengalaman seorang mistikus bernama Charles de Foucault. Semula, ia mengaku dan menyatakan diri sebagai seorang ateis. Suatu saat dia menulis begini.

“Ketika akhirnya saya tahu bahwa Tuhan itu ada, saya tidak dapat melakukan apa pun kecuali hidup untuk-Nya. Pada akhirnya, semua itu seperti keindahan yang abadi, kebaikan yang abadi, kebaikan yang tak terbatas. Saya begitu terpesona, maka jangan menghibur saya dengan yang bersifat relatif. Tuhanlah satu-satunya yang berarti.”

Referensi pihak ketiga

Menarik juga yang dialami oleh Mahatma Gandhi. Pengalamannya memberi inspirasi dan motivasi untuk kian mengalami Tuhan dalam pengenalan diri dan kemanusiaan. Begini kata Gandhi.

“Tujuan terakhir manusia adalah kesadaran bahwa semua aktivitasnya, sosial, politik, religius, harus diarahkan kepada tujuan akhir yakni untuk memandang Tuhan. Pelayanan langsung bagi semua manusia menjadi sesuatu yang niscaya dari upaya tersebut karena jalan satu-satunya untuk menemukan Tuhan adalah dengan melihatNya dalam ciptaanNya dan menjadi satu denganNya. Maka, saya harus melayani sesama saya dan menjadi satu dengan mereka. Jika saya dapat meyakinkan diri saya bahwa saya dapat menemukanNya di sebuah gua di Himalaya, saya akan segera pergi ke sana, tetapi saya tahu bahwa saya tidak dapat menemukanNya terpisah dari kemanusiaan.”

Referensi pihak ketiga

Demikian semoga refleksi ini memberi inspirasi dan motivasi siapa saja untuk mengalami indahnya kehadiran Tuhan melalui diri sendiri. Tuhan juga bisa kita alami dalam.setiap peristiwa hidup kita sehari-hari. Semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Muntilan, 11/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi falsafah Jawa dan Mencari Tuhan dalam Segala (2013:10-11; 15-17).

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4254630614426241?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.