Inspiration

Inspirasi Asta Brata, Delapan Watak Kepemimpinan, Bagaimana Menurutmu?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Tahukah kamu bahwa ada delapan watak kepemimpinan yang mestinya ada dalam diri setiap manusia sebagaimana diajarkan dalam kearifan lokal falsafah Jawa? Konsep itu disebut Asta Brata. Kata asta sebetulnya hasta, yakni angka delapan. Brata adalah pemimpin. Kita simak selengkapnya yuk.

Referensi pihak ketiga

Asta brata merupakan kearifan lokal kuno untuk para pemimpin. Prinsip-prinsipnya diambil dari simbol-simbol karakteristik semesta alam. Apa saja?

Satu. Berwatak bumi (pratala). Gambaran sosok pribadi manusia yang menampung apa saja, baik buruk, benar salah, dan apa pun. Semua ditampung dan diterima sebagai bagian untuk pertumbuhan yang menyejahterakan hidup bersama. Kebaikan dan kebenaran dikembangkan. Keburukan dan kesalahan dikoreksi dan diolah sebagai pupuk yang menyuburkan kehidupan.

Dua. Berwatak air (tirta/samodra). Gambaran sosok pribadi manusia yang jujur, bersih dan berwibawa. Air itu membersihkan, menyegarkan dan menyembuhkan dari dahaga. Air menjadi simbol penyembuh manusia dari rasa haus akan kebenaran, kebaikan, keadilan dan kesejahteraan.

Referensi pihak ketiga

Tiga. Berwatak api (dahana). Gambaran sosok pribadi yang laksana api memberi kobaran semangat, kekuatan dan keadilan bagi siapa saja. Api itu memberi daya kehidupan yang penuh dengan manfaat dan berkat.

Empat. Berwatak angin (maruta). Gambaran pribadi manusia yang mampu memberikan kesejukan, kelembutan, dan kecerdasan melihat setiap celah dan kesempatan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebaikan. Dalam kebersahajaan yang tak tampak, ia mampu menerobos setiap celah untuk menghadirkan kebaikan dan kehidupan.

Lima. Berwatak matahari (surya). Surya adalah matahari, maka menjadi gambaran pribadi manusia yang memberi daya energi dan penerangan dalam kegelapan. Watak surya juga mampu berlaku disiplin dalam tata waktu dan kehidupan.

Referensi pihak ketiga

Enam. Berwatak bulan (candra). Sosok pribadi yang memberi rasa damai dan bahagia, penuh kasih sayang meski kadang memberi rasa seram tercekam bagi siapa saja yang berbuat kesalahan atau melakukan kejahatan. Namun, kasih sayang dalam watak ini juga memberi ampunan.

Tujuh. Berwatak bintang (kartika). Gambaran sosok pribadi yang memberi pengharapan kepada manusia setinggi-tingginya namun tetap rendah hati dan tidak menonjolkan diri. Ia juga memberi keindahan.

Delapan. Berwatak mendung (hima). Watak ini gambaran seorang yang mampu berperan sebagai pengayom, pelindung, dan peneduh bagi siapa saja. Ia hayom hayem, mengayomi dan memberi rasa damai bagi siapa saja.

Referensi pihak ketiga

Begitulah inspirasi dan motivasi kearifan lokal falsafah Jawa dalam konsep Asta Brata. Ajaran ini disampaikan oleh Prabu Rama kepada Wibisana menurut versi Kitab Ramayana. Sedangkan dalam Kitab Mahabarata, ajaran itu disampaikan oleh Kresna kepada Arjuna. Kamu boleh percaya boleh tidak. Ambil saja yang positif, yang bermanfaat bagi diri sendiri. Yang jelas, kalau kedelapan watak ini bisa dihayati dalam diri seseorang, ia layak menjadi pemimpin yang akan memperkembangkan kehidupan bersama menuju peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaannya.

Siapa tahu, bahkan dalam diri kamu, watak kepemimpinan itu dianugerahkan Tuhan loh. Nah, yang utama dan terutama dari semua itu menurutku adalah welas asih, yakni pemimpin yang berbelas kasih dan penuh kerahiman bagi siapa saja. Pasti keren! Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 5/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi dari Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:41-42) dan berbagai sumber lainnya

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2229273667520057?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.