Inspiration

Inspirasi Kearifan Lokal Kerja Bukan Demi Kepentingan Pribadi Tapi Kesejahteraan Semuanya

Sapa obah mamah

Sapa ulet nglamet

Ana awam ana pangan

Tuking boga saka nyambut karya

Sregep iku gawe kamulyan

Referensi pihak ketiga

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Untaian kalimat itu adalah kearifan lokal falsafah Jawa yang mengingatkan siapa saja untuk selalu bekerja demi kesejahteraan. Dalam bahasa Indonesia, inspirasi kearifan lokal itu bisa diterjemahkan sebagai berikut. ” Siapa yang bekerja beroleh makanan, siapa yang cerdik dan bekerja keras akan bisa makan enak. Ada hari ada rejeki. Rajin bekerja itu sumber kesejahteraan. Yang rajin berkarya akan boleh kemuliaan hidup yang bermartabat. Lalu apa maknanya bagi kita?

Referensi pihak ketiga

Pertama-tama, setiap orang memang harus bekerja keras bila hendak sejahtera. Namun kerja keras tak hanya secara fisik, melainkan juga secara mental, yakni dengan segala ketekunan dan kegigihan. Sikap ulet bukan untuk diri sendiri melainkan juga untuk kepentingan bersama. Itulah karya kesejahteraan dan keadilan. Itulah yang selama ini saya lihat tampak dalam diri sosok Joko Widodo atau sering disebut Jokowi, yang saat ini bekerja untuk kesejahteraan bangsa sebagai Presiden Republik Indonesia.

Selanjutnya, tentu saja, harus diingat bahwa bekerja itu tak hanya untuk kesejahteraan duniawi dan materi. Setiap bangunan infrastuktur yang disediakan oleh Pak Jokowi bertujuan lebih dalam lagi yakni untuk pemerataan dan perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan kesejahteraan bangsa. Bekerja dalam arti inilah yang disebut bekerja dengan perubahan mental, bukan demi kemakmuran diri sendiri dan kelompoknya, melainkan demi bangsa.

Referensi pihak ketiga

Buah-buah karya itu juga tidak dalam rangka memanjakan rakyat dengan berbagai subsidi yang habis dibakar dan dikonsumsi sesaat, melainkan dengan menyediakan sarana-prasarana yang baik, selesai dibangun – tidak mangkrak – dan bermanfaat untuk masyarakat. Itulah kerja dan kemartabatan hidup yang dimaksudkan dalam kearifan lokal ini. Sapa obah mamah, sapa ulet nglamet, ana awam ana pangan, tuking boga saka nyambut karya, sregep iku gawe kamulyan.

Itulah makna terdalam suatu karya yang selaras dengan Sabda Tuhan, bekerjalah bukan untuk makanan dunia, melainkan bekerja untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup bersama. Sebab, manusia tidak hanya makan dari roti dan nasi saja, melainkan seharusnya dari setiap firman Tuhan yang disampaikan, apa pun agama dan kepercayaan kita.

Referensi pihak ketiga

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 26/6/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi dari Ilmu Slamet

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3993987392104219?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.