Inspiration

Masihkah Ragu Bahwa Ada Banyak Saudari-Saudara Istimewa Di Antara Kita? Inilah Buktinya

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Kearifan lokal falsafah Jawa ini memberi inspirasi tentang persaudaraan di antara umat manusia. Sangat unik. Persaudaraan jenis ini bahkan bisa melebihi persaudaraan darah sekandung. Mengapa? Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Sedulur sinarawedi. Makna dasarnya, sahabat dekat yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri, bahkan laksana saudara kandung, meski tidak tunggal welat. Kearifan lokal ini hebat.

Mengapa disebut sedulur sinarawedi? Karena relasi persaudaraan di antara pribadi-pribadi itu sedemikian dekat, akrab, baik dan saling mendukung sebagai saudara. Jadi bukan sekadar sebagai sahabat melainkan sebagai keluarga. Bahkan, kadang-kadang kekerabatan persahabatan sedulur sinarawedi bisa lebih dekat dari saudara kandung. Ia laksana lentera dalam kegelapan hidup kita.

Referensi pihak ketiga

Dalam kisah-kisah kearifan lokal budaya Jawa, sedulur sinarawedi bahkan bisa lahir dari suatu perjumpaan darurat ketika seseorang hadir memberi pertolongan di saat terjadi kesulitan. Konteksnya bisa muncul seperti ini. Seorang pemuda/pemudi sedang terjebak tersekap dalam kesulitan. Dalam keadaan itu, ia berujar, “Kalau ada yang bisa membebaskan aku dari kesulitan ini; ia akan kujadikan sedulur sinarawadi.” Bahkan, bila yang ditolong dan yang menolong itu berlawanan jenis kelamin, mereka bisa saling menerima dalam relasi lebih lanjut dalam ikatan pernikahan. Maka, seorang puteri kerajaan, misalnya, dalam kesulitannya akan berkata, “Kalau ada yang bisa menolongki dari keadaan ini, bila laki-laki akan kupilih sebagai suami. Bila ia perempuan, akan kujadikan sedulur sinarawedi. Atau, kalau yang laki-laki tak berkenan kujadikan suamiku, maka akan kujadikan sedulur sinarawedi.”

Referensi pihak ketiga

Begitulah makna sedulur sinarawedi yang membombong hati kita. Yang jelas persahabatan dalam taraf sedulur sinarawedi akan menjadi tingkat persaudaraan yang khas, khusus dan istimewa dalam sikap saling menghormati, menghargai dan menolong satu terhadap yang lain. Itu bisa terjadi di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Dari sana juga terlahir peradaban kasih dalam rangka persaudaraan. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Ruang Merah Unika, 6/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:375-376) sambil menunggu pertemuan ISC.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1113353233504900?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.