Inspiration

Pentingnya Memahami Makna Kebatinan Yang Benar, Tak Perlu Berprasangka Buruk Ya!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Kebatinan itu kata yang memiliki makna sangat mendalam. Sayangnya, banyak orang yang mudah salah paham saat mendengar atau membaca kata kebatinan. Kok bisa? Kita simak bersama yuk.

Referensi pihak ketiga

Kata batin, kebatinan, memiliki makna mendalam erat terkait hakikat hidup manusia. Contohnya, setiap memasuki Hari Raya Idul Fitri kita selalu mengatakan, “Mohon maaf lahir dan batin ya!” Nah, batin itu bagian isi terdalam raga. Dalam buku Ilmu Slamet (2010:100) diterangkan, “Raga ini bergerak, berfikir, bekerja karena ada unsur batin. Batin manusia terdiri atas dua unsur yaitu jiwa dan sukma.”

Dari keterangan itu, kita lihat bahwa batin itu bagian inti hidup manusia. Dalam tradisi rohani, setiap hari, orang harus melakukan penelitian batin agar hidup manusia selalu terarah kepada Allah dalam kebaikan dan kesucian. Itulah sebabnya, dalam rangka kembali ke fitri, untuk menjadi suci kembali, kita saling memaafkan lahir dan batin. 

Nah, dari sini kita sudah dicerahkan bahwa kebatinan itu bagian hakiki dari kehidupan manusia. Itulah sebabnya, adalah suatu salah kaprah dan salah arah bila orang berprasangka buruk saat mendengar atau membaca kata kebatinan. Kebatinan itu bukan klenik, bukan soal kembang setaman, bukan soal ilmu duniawi. Kebatinan adalah kedalaman hidup manusia yang terdiri dari jiwa dan sukma yang harus selalu diolah dan dirawat. 

Referensi pihak ketiga

Itulah sebabnya ada olah (ke)batin(an). Contohnya, Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, rutin melaksanakan program Temu Kebatinan (Tebat), minimal setahun dua kali. Dari awal diselenggarakannya, tema selalu dirumuskan dengan kalimat awal “Mengolah keheningan batin untuk….” Nah “untuk …” bisa diisi dengan berbagai misi dan visi aktual. Misalnya, untuk Tebat ke-33 yang akan dilaksanakan pada tanggal 7-8 Juli 2018 nanti, kami merenungkan tema “Mengolah Keheningan Batin untuk Srawung secara Inklusif, Inovatif, dan Transformatif dalam Semangat Bhinneka Tunggal Ika”.

Dari kedalaman dan keheningan batin, kearifan lokal direnungkan dan dikembangkan sesuai konteks hidup bersama yang aktual. Itulah contoh pentingnya memahami makna kebatinan yang benar. Kita mengolah inti kedalaman jiwa kita, batin kita agar dari batin yang hening dan bening, kita mampu hadir dalam kebersamaan yang terbuka, merangkul, membarui diri dan memiliki daya ubah.

Referensi pihak ketiga

So, tak perlu berprasangka buruk terhadap kata kebatinan. Justru kita harus terus mengolah batin kita agar tetap suci dan membuahkan berkah dalam kehidupan bersama. Kebatinan bukan soal mistik atau klenik bunga kantil melainkan praksis rohani untuk kian hadir dalam hidup bersama di tengah keberagaman. Tanpa batin yang hening dan suci, kita akan mudah terjebak dalam hingar bingah materialisme duniawi.

Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita dengan batin yang hening dan suci.***

JoharT Wurlirang, 1/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi dari Ilmu Slamet (2010:100)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/652155042753981?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.