Inspiration

Bahagianya Mengalami Anugerah Beruntun, Sederhana Saja, Seperti Apa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inspirasi kearifan lokal berikut ini indah dan kualami secara berlimpah kebenarannya. Kadyo kajugrugan gunung menyan. Itulah keindahan dan kebahagiaan yang bertubi-tubi terjadi dalam peristiwa-peristiwa berikut ini. Seperti apakah? Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Pada hari Sabtu 21/7/2018, saya sowan Romo Denny Melcosh di Jalan Kaliurang dalam rangka Pra-event Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Lintas Agama KAS. Pukul 12.45 WIB kami berempat tiba di lokasi. Romo Denny menyambut dengan segala keramahannya dan mengajak kami berkeliling sambil beliau bercerita tentang banyak hal terkait keberadaan area Melcosh dan sepak terjang karya yang dirintisnya. Luar biasa! Kreatif dan inspiratif; inklusif, inovatif dan transformatif. Proficiat Romo. Itu gunung menyan pertama yang menimpaku. 

Tentu, kami juga menikmati kopi yang sedap racikan tim Melcosh. Asli kopi bukan sekadar essence kamuflase aroma atau rasa kopi tetapi sungguh-sungguh kopi bahkan kukunyah pula beberapa biji kopi goreng laksana mengunyah kedelai goreng. Enak. Sedap! Lalu kubeli beberapa kilogram baik yang sudah digilas ala tubruk maupun biji yang sudah digoreng kering tanpa gosong asli kopi. Kubeli juga sebagai oleh-oleh untuk Romo Donny di Semarang yang sedang nyidham kopi Melcosh, katanya. Ini gunung menyan kedua.

Nah, yang ketiga, gunung menyan itu tampak dalam kisah ini. Pukul 15.00 saya minta ijin Romo Deny untuk turun sejenak bermaksud mengikuti Misa di Gereja Pakem. Baru pertama kalinya daku masuk gereja ini. Saat kami tiba, gereja masih sepi. Baru beberapa orang datang. Saya bermaksud menjumpai Romo Paroki untuk berkulanuwun, namun tak tahu di manakah pastorannya. 

Maka sesudah masuk ke dalam gereja, mengambil air suci dan membuat tanda salib; duduk berdoa sebentar; lalu saya melangkah melalui pintu samping dan berjalan ke kiri. Dari luar tampak Sumur Kitiran Kencana. Maka aku masuk, melihat sumur, meminum air dengan cangkir yang tersedia. Saat itulah kulihat Romo Yakobus Winarto Pr sedang mempersiapkan sesuatu di ambo dan altar. Beliau melihatku, aku melihat beliau. Kami saling mendekat lalu bersalaman, dan kucium tangan beliau. Romo Win adalah romo idolaku saat aku berusia 8 tahun. Saat itu beliau misa perdana sesudah tahbisannya, aku berusia 8 tahun. Romo Win biasa memanggil almarhumah ibuku “Mbak Pur”. Mereka sering jaga rumah bersama saat Eyang Dirdjosoemarto pergi merias manten. Ibunda Romo Win adalah seorang perias manten tradisional yang terkenal dan penuh aora wibawa. Sementara ibu saya adalah koster gereja Baturetno, kala itu di bawah bimbingan ayah Romo Win, Eyang Dirdjosoemarto.

Nostalgia berbunga dalam perjumpaan itu. Sesudah bersalaman, saya kembali ke bangku belakang gereja untuk berdoa. Tiba-tiba Mas Agung berbisik padaku, “Romo, tadi saat romo berjalan di situ dan maju ke sumur itu, ada seorang ibu yang menyangka romo orang gila loh. Dia bilang ke saya: Mas itu ada orang gila, tolong diawasi… hahaha!”

Mendengar itu, saya tersenyum dan melanjutkan berdoa. Sebelumnya, saya jawab informasi Mas Agung itu dengan mengatakan, “Ibu itu benar. Saya orang gila pengikut Orang Gila dari Nazareth!”

Saat sedang berdoa pribadi, tiba-tiba kurasakan tangan memelukku dari belakang. “Yuk, ikut konselebrasi yuk!” Bisik orang yang tangannya memelukku dari belakang itu. Dialah Romo Winarto, idola masa kecilku. Pelukannya serasa pelukan Bapa Surgawi yang peduli. Juga, laksana pelukan tangan Yesus yang hatiNya tergerak oleg belas kasihan padaku, persis seperti Injil yang dibacakan dan diwartakan pada hari Minggu Biasa XVI 2018.

“Matur sembah nuwun Romo.” Jawabku. Romo Win langsung menarikku berdiri dengan lembut. Lalu mengajakku berjalan menjumpai para petugas among tamu di depan pintu gereja, “Ini romo Budi, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang!” Saya bersalaman dengan mereka. Lalu kami berdua melangkah ke pastoran. Kami ngobrol sejenak. Lalu Romo Win mengambilkanku alba. Sambil menyerahkan alba, beliau berkata, “Nanti romo yang homili ya, sekaligus baca Injil!” Jawabku, “Dalem ndherek Romo. Sendika dhawuh!” “Temanya Allah peduli!” kata Romo Win lagi. Ternyata, yang sedang kurenungkan sama dengan yang direnungkannya. Puji Tuhan!

Misa pun dimulai tepat pukul 16.00. Misa berjalan lancar. Bagiku, itu adalah anugerah. Kadyo kajugrugan gunung menyan. Seumur-umur, aku boleh dan bisa Misa Konselebrasi dengan Romo Idolaku. Saat beliau masuk seminari pada tahun 1964, saya masih dalam rancangan Tuhan. Bahkan ayah dan ibuku pun baru menikah pada tahun 1967 dan setahun kemudian saya lahir. Itulah sebabnya, saat Romk Win Misa Perdana, 42 tahun silam, aku baru berusia 8 tahun. Dan usia imamatku pun baru 22 tahun saat ini, beliau 20 tahun lebih senior dariku. Inilah yang membuatku hanyut dalam rasa syukur dan haru saat pertama kali bisa dan boleh Misa Konselebrasi bersama beliau. Kados kajugrugan gunung menyan! Itulah ibaratnya dalam perspektif falsafah kearifan lokal Jawa. Indah rasanya!

Sesudah Misa, saya berpamitan hendak kembali ke Melcosh. Beberapa umat yang belum kukenal mencegat. Ada yang minta berkat. Ada yang mengajak foto. 

Sesampai di Melcosh, kami minum kopi sejenak, lalu memulai acara Puncak Pra-event Srawung Persaudaraan Orang Muda Lintas Agama Rayon Sleman yang diberi judul Srawung Kekinian, Rukun Agawe Santosa! Malam kian menjelang. Udara dingin kian memagut. Namun hati penuh sukacita meyaksikan dan mengalami srawung bersama orang muda Rayon Sleman. Sukacita pula membuncah menyaksikan kehadiran beberapa Romo yakni Romo Wegig, Romo Ari Purnomo, Romo Billy, Romo Hartanta dan Romo Dadang, para Rom Projo Keuskupan Agung Semarang yang melayani di Rayon Sleman. Ada juga Romo Sigit SCJ yang hadir di situ. 

Suasana meriah, rukun, bersahabat terbangun melalui srawung. Ada juga teman-teman Srili (Srikandi Lintas Iman) Jogya. Ada pula Yunan Helmi dari Forum Jogya Damai. Srili dan FJD adalah komunitas yang tahun lalu membantu saya dalam acara Srawung Anak Bangsa Jogya yang digagas Kom HAK KAS dan Mas Yunan Helmi adalah ketuanya. Kami bersama-sama bersukacita, damai dalam cinta kendati berbeda.

Begitulah, semua itu bagiku laksana gunung menyan yang runtuh menimpa diriku namun membuat jiwa dan hatiku dipenuhi sukacita dan bahagia. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 22/7/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1494248671000148?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.