Inspiration

Bahagianya Mengasihi, Mengapa Harus Membenci? Itulah Kebahagiaan Sejati

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Setiap orang pasti merindukan kebahagiaan sejati. Ada kebahagiaan sejati yang datang tak terduga. Inspirasi falsafah Jawa yang merupakan kearifan lokal ini luar biasa menggambarkan kebahagiaan sejati yang tak terduga itu. Seperti apa dan bagaimana seharusnya? Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Begja kemayangan. Secara harafiah, kearifan lokal itu berarti begini. Kebahagiaan yang tak terduga dan beruntun. Apa maknanya?

Seseorang mengalami kebahagiaan yang luar biasa di luar dugaan. Memang dalam arti yang sederhana kebahagiaan itu terjadi karena orang tiba-tiba mendapat berkat. Misalnya, tiba-tiba orang menerima hadiah, rejeki, harta dan berkat materi.

Referensi pihak ketiga

Namun, kebahagiaan tak terduga itu juga bisa terjadi secara rohani. Itulah yang kualami hari ini (Minggu, 15/7/2018). Kisahnya begini. Pukul 10.30-12.30 saya masih harus melayani pemberkatan sakramen pernikahan Eric dan Grace di Kapel Don Bosko Semarang. Sesudah pemberkatan masih melayani beberapa sesi foto bersama maupun selfie dengan beberapa orang dan kenalan baru.

Sesudah itu, saya meluncur ke Kendal untuk menghadiri dan mendukung Romo Sunar dan Romo Joko bersama Orang Muda Lintas Agama yang menyelenggarakan pra-event Srawung Orang Muda Lintasagama. Perjalanan Semarang-Kendal biasa macet. Namun syukur kepada Tuhan, saya masih bisa menikmati bagian akhir pentas seni lintasagama yang ditampilkan orang muda lintas agama yang indah dan mengesankan. Cuplikannya ada dalam video terlampir di bawah ini. Itu begja kemayangan yang kualami.

Orisinil

Tak hanya itu, malah kami bisa bereuni dengan kawan-kawan lintas agama. Ada Kiai Budi, Kelana Siwi, Kang Al, Gus Ary dan sejumlah penari sufi yang kebetulan lewat dan berkenan singgah di Kendal. Mereka pun kuperkenalkan dengan Romo Sunar, Romo Joko, dan Romo Adi. Dan kami ngobrol tentang kerukunan dan persaudaraan tanpa diskriminasi. Bahkan sesudah itu, kusempatkan pula singgah di kedai kopi Kelana Siwi untuk sekadar silaturahmi. Obrolan-obrolan tentang kebangsaan, kemanusiaan dan persaudaraan pun terjadi. Bahkan tak hanya menjadi obrolan, tetapi juga kenyataan. Sambil ngopi, ngeteh, dan ngeses, kami ngobrol dalam suasana begja kemayangan.

Referensi pihak ketiga

Itulah yang kumaksud begja kemayanga dalam makna rohani. So Gan, kebahagiaan tak hanya tentang yang duniawi materi tetapi juga yang rohani melalui silaturahmi. Indah bukan? Sungguh, bahagianya berbagi kasih melalui perjumpaan yang saling menjadi berkah. Bagaimana menurutmu? Kasih komentar donk.

Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Kendal, 15/72018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Piturur Adi Luhur (2009:86-87).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4319207498734077?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.