Inspiration

Dia Bilang, Kau Adalah Aku Yang Lain, Maka Kitalah Yang Ada Meski Beda, Lalu Bagaimana?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inilah yang disebut kesadaran luhung tak hanya bagian dari kearifan lokal, melainkan kearifan spiritual. Maknya sangat mendalam. Dari sisi kearifan lokal ada ruangnya, dari sisi spiritual mendalam maknanya.

Referensi pihak ketiga

Inspirasi kearifan lokalnya ada dalam pitutur luhur kadang kadeyan. Kadang kadeyan itu tak hanya kadang katut. Kadang katut itu pertalian persaudaraan pribadi-pribadi yang berbeda, yang bukan karena hubungan darah, melainkan karena disatukan oleh hubungan pernikahan. Orang menyebutnya saudara ipar. Penentunya adalah ikatan pernikahan sanak saudara terkait. Kadang katut bubar bila hubungan pernikahan pihak-pihak terkait juga bubar.

Referensi pihak ketiga

Kadang kadeyan lebih mendalam dibandingkan dengan kadang katut. Kadang kadeyan terjadi pula bukan karena hubungan darah dan kandung melainkan karena kekerabatan yang ditandai oleh saling pengertian, kasih, dan persahabatan di antara siapa saja yang dekat secara personal. Memang, paling mudah, kadang kadeyan terjadi dalam relasi hidup bertetangga. Kekerabatan di antara warga sekitar yang saling berdekatan. Buahnya adalah kebersamaan hidup yang ditandai kerukunan, persaudaraan dan perdamaian satu terhadap yang lain.

Nah, kadang kadeyan yang melampaui ruang ketetanggaan bisa terjadi pula di antara pribadi yang saling mengenal dalam kasih meski rumahnya tidak berdekatan. Secara spiritual sufistik, persaudaraan semacam ini disebut persaudaraan cinta. Ungkapan para sufi mengatakan: Kau hanyalah aku yang lain, maka kitalah yang ada dalam keberagaman. Perbedaan bukan ancaman melainkan cermin yang memantulkan keberadaan masing-masing pihak dalam kasih. Kalau demikian, maka yang tumbuh adalah sikap bersaudara dalam cinta kasih yang dirayakan dengan kegembiraan dalam sikap saling hormat dan menghargai. Deritamu adalah deritaku. Bahagiaku adalah bahagiamu. Indah bukan? Hanya orang yang sudah masuk dalam taraf pengalaman sufi yang mampu memahami realitas ini!

Referensi pihak ketiga

Karena kau adalah aku yang lain, dan dirimu meadi pantulan adanya diriku, maka buat apa saling menghina? Menghina yang lain tak lain merupakan hinaan terhadap diri sendiri yang sedang nestapa tanpa cinta. Maka, bergandengan tangan membangun peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaannya adalah keindahan ibadah dalam srawung kehidupan yang nyata. Bagaimana menurut Anda?

Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Kampus Ungu Unika, 16/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:170-171)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1405285808800760?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.