Inspiration

Indahnya Bersikap Tak Menghakimi, Yang Baik Pasti Tampak Demikian Jua Yang Jahat, Mengapa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Dalam hidup ini, mudahnya orang menghakimi sesamanya dari sekilas pandang peristiwa. Padahal, pitutur luhur budaya Jawa memberikan kearifan lokal yang sangat dahsyat maknanya. Becik ketitik, ala ketara. Begitulah rumusannya, lalu apa maknanya? Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Kearifan lokal ini memiliki makna yang sangat mendalam. Pada dasarnya, pitutur luhur ini memberikan rambu-rambu kepada siapa saja bahwa setiap perbuatan baik kita akan tampak, demikian pula perbuatan yang jahat atau buruk. Pada saatnya, baik buruk manusia akan tampak dengan sendirinya.

Lalu, mengapa manusia tergoda untuk mudah saling menghakimi satu terhadap yang lain? Inilah kelemahan manusia. Padahal, dari sisi Tuhan sendiri, tak pernah Tuhan itu gegabah. KesabaranNya melampaui luasnya samodera dan angkasa. Tuhan bahkan tak mudah bertindak untuk menilai. Ibaratnya, yang baik dan yang jahat itu laksana benih gandum yang kita taburkan, lalu bertumbuh. Namun tiba-tiba seorang yang berhati jahat menaburkan benih ilalang di antara gandum itu.

Referensi pihak ketiga

Dalam situasi itu, jangan cepat-cepat mencabuti ilalang, sebab bisa jadi, benih gandum pun akan turut tercabut. Maka, biarkanlah keduanya tumbuh bersama. Pada saatnya, akan jelas, mana gandum mana ilalang. Begitulah becik ketitik, ala ketara. Indahnya bersikap tak mudah menghakimi sesama, yang baik akan tampak, demikian pula keburukan akan terlihat.

Namun, pitutur luhur ini tak hanya mengajak kita untuk tak mudah menghakimi orang lain, tetapi juga mengajak kita untuk memiliki cara pandang bening dalam menghadapi keburukan dan kejahatan. Tunggu dulu! Sabarlah! Itu suatu tantangan yang harus dihadapi untuk pertumbuhan hidup manusia setiap hari! Tantangan juga diperlukan! Maka, jangan menghindari tantangan hidup sehebat dan sejahat apa pun! Sebab di sanalah, manusia hidup senyatanya!

Referensi pihak ketiga

So, girls and guys, begitulah makna becik ketitik, ala ketara. Ayolah, kita tak mudah menghakimi, bersikap sabar, dan maju terus menghadapi tantangan yang ada. Serahkan saja semuanya kepadaNya! Begitulah hidup ini menjadi indah karenanya. Pastilah, yang terbaik akan dianugerahkan Tuhan kepada siapa saja yang bersikap sabar, tak gampang menghakimi dan tetap maju dalam kehidupan ini. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua dengan kesabaran dan penyerahan diri padaNya.***

Kampus Ungu Unika, 17/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:56-57).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3773580812735155?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.