Inspiration

Indahnya Inspirasi Falsafah Jawa Berperilaku Baik, Berbuah Nasib Baik Pula; Mengapa Tidak?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Bagaimana dengan nasib seseorang dalam perspektif inspirasi kearifan lokal falsafah Jawa? Inilah rumusan pitutur luhurnya. Ngati-ati milih laku, lakumu nggawa nasibmu. Artinya, berhati-hatilah berperilaku dalam hidup ini, sebab tingkah laku seseorang membawa dampak pada nasib yang bersangkutan. Apa maknanya? Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Perialku setiap orang, baik buruknya, akan berpengaruh dalam kehidupan yang bersangkutan. Ini bukan soal karma semata, melainkan soal dampak dari setiap perilaku yang terjadi dalam hidup seseorang. Falsafah ini dalam arti tertentu senada dengan ungkapan bahwa segala sesuatu yang kita perbuat akan kembali kepada diri yang bersangkutan masing-masing dan bahkan siapa saja yang ada di sekitarnya.

Maka, apabila perilaku setiap orang dilandasi dan tertuju pada kebaikan, kebaikan pulalah yang akan mewarnai kehidupannya, Tentu, tidak berarti bahwa tanpa tantangan dan rintangan. Tantangan dan rintangan itu selalu ada dalam setiap langkah kehidupan siapa saja. Namun, cara pandang positif dan baik dalam menghadapi rintangan, tantangan dan kesulitan juga akan berbengaruh terhadap yang bersangkutan.

Saya mengibaratkan, perilaku dan sikap itu ibarat kaca mata yang kita kenakan. Kalau kaca mata yang kita pakai berwarna hitam, maka akan gelapnya seluruh pandangan kita dalam warna hitam. Kalau warna kaca mata kita biru, akan biru pulalah setiap hal yang kita pandang. Nah, kaca mata bening sesuai dengan ukuran yang bersangkutan juga akan menghasilkan cara pandang yang bening dalam setiap peristiwa kehidupan yang dilaluinya.

Itulah kurang lebihnya, pemaknaan atas inspirasi falsafah jawa ati-ati milih laku, lakumu nggawa nasibmu, Kalau demikian, semoga ini memberi pula motivasi bagi siapa saja untuk selalu mengedepankan dan mengutamakan perilaku yang baik, positif, penuh kasih dan damai dalam kehidupan ini, sehingga nasib baik, positif, kasih dan damai pula yang kita alami bersama sanak keluarga dan kerabat yang mengasihi dan kita kasihi.

Demiki. Terima kasih berkenan membaca artikel ini. Terima kasih pula atas komentar yang diberikan. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua dengan kebaikan, kasih, dan damai sejahtera selalu.***

Ponpes Al-Islah, Meteseh, Tembalang, 26/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi falsafah Jawa dalam meme gambar sampul tulisan ini

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3198818337338185?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.