Inspiration

Lebih Baiklah Bisa Peka Merasakan Daripada Merasa Bisa, Lalu Harus Bagaimana? Ini Jawabnya

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Betapa sulit membangun kesadaran diri untuk bisa mengolah rasa perasaan diri agar bermanfaat bagi kehidupan bersama. Lebih mudah orang merasa bisa daripad bisa merasa. Apa artinya? Bagaimana kearifan lokal Jawa merumuskannya? Lalu kita harus bagaimana?

Referensi pihak ketiga

Aja rumangsa bisa, nanging kudu bisa rumangsa. Kearifan lokal falsafah Jawa ini memiliki arti yang sangat mendalam. Pitutur luhur itu masih sangat relevan dan signifikan untuk situasi zaman now, yang ditandai oleh sejumlah orang yang suka merasa pinter, dan lalu justru merasa bisa, tetapi ternyata tidak memiliki kepekaan untuk merasakan penderitaan orang lain.

Referensi pihak ketiga

Mereka yang biasanya rumangsa bisa tapi tidak bisa rumangsa biasanya hanya suka mengkritik tanpa data, lalu menyebarkan hoax dan kebohongan. Orang seperti ini biasanya juga suka daniel waluyo alias dikandhani ngeyel waton sulaya. Kalau diberitahu baik-baik membantah dan hanya suka bikin perkara, bukan untuk kebaikan melainkan untuk kehendaknya sendiri yang berlawanan dengan spirit kebangsaan.

Referensi pihak ketiga

Semoga kita semua dijauhkan dari sikap-sikap seperti itu. Maka, lebih baik bisa peka merasakan derita sesama, daripada merasa bisa namun tak pernah berbuat apa-apa. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 23/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi falsafah Jawa

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3332153149721032?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.