Inspiration

Ngapain Ngotot Melakukan Kekerasan & Menebarkan Kebencian? Kalahkanlah Dengan Kelembutan!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Ijinkanlah sekali lagi lagi, saya mengulas kearifan lokal ini di tengah arus kehidupan bersama yang masih diwarnai kebencian dan ujaran permusuhan. Ngapain sih orang begitu hobi mengedepankan kekerasan dan menebarkan kebencian? Apa untungnya? Awas! Jangan terpancing. Maka, inspirasi kearifan lokal Jawa ini sangat penting menjadi motivasi kita.

Referensi pihak ketiga

Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti. Sebagaimana sudah kita hafal, kearifan lokal falsafah Jawa ini berarti, segala sifat keras hati, picik, angkara murka dan kebengisan, tak akan bisa dikalahkan selain dengan sikap bijaksana, kelembutan hati dan kesabaran yang penuh cinta kasih. Falsafah ini sangat mulia, meski satu dua orang yang tidak paham menuduh falsafah Jawa itu berasal dari setan. Tentu dan pasti, tuduhan itu tidak beralasan dan ngawur! Tuduhan itu hanyalah bagian dari watak angkara yang mau menebarkan kebencian dan kalau dilawan paling-paling yang bersangkutan akan emosi dan ngamuk!

Maka, benarlah, kearifan lokal sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti. Biarlah mereka yang hobi menebarkan kebencian, kekerasan, dan kekacauan itu hancur bukan oleh perlawanan manusia, melainkan oleh Sang Pangastuti Jayaningrat. Kearifan, kelembutan hati, dan kesabaran penuh kasih akan membuat mereka tak berkutik dengan sendirinya pada saatnya. Ibarat nasehat yang dikatakan Kyai Lurah Semar Bodronoyo, “Heeeiiiiasah padha paten-patenan, tekan titi wancine, manungsa iku bakal mati dhewe miturut kersaning Kang Murbeng Dumadi! Sura dira jaya jayaningrat, bakal lebur dening pangastuti.

Referensi pihak ketiga

Karena itu, tak usah membuang dan menghabiskan energi melawan kekerasan dengan kekerasan. Tak usah boros tenaga melawan kebencian dengan kebencian. Tak usah terpancing provokasi ujaran kebencian mereka, justru hadapi saja dengan kebijaksanaan, kelemahlembutan hati dan kesabaran dengan cinta kasih. Memang, sikap yang kita kedepankan sebagai sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti akan menjadi laksana abu panas yang ditaburkan di ubun-ubun mereka yang sedang panas oleh amarah akibat kebencian dan dendam. Dan itu akan membakar mereka dengan sendirinya, tanpa kita harus menghabiskan energi dan tenaga untuk melawan mereka.

Daripada bersitegang saling hina, mengapa tidak duduk bersama berdialog dan bersilaturahmi dalam kasih? Itu jauh lebih simpatik dan membuat siapa saja jatuh hati untuk bersinergi dalam membangun peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaannya. Jadi, biarlah diri sejati kita dikuasai dan dimotivasi oleh inspirasi ini: Sura dira Jayaningrat, lebur dening Pangastuti!

Referensi pihak ketiga

Terima kasih berkenan membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat. Bila bermanfaat, terima kasih berkenan membagikan kepada semakin banyak orang agar semakin banyak orang pula diinspirasi dan dimotivasi sikap sura dira Jayaningrat, lebur dening Pangastuti. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua dengan kebijaksanaan, kelembutan hati dan kesabaran penuh kasih.***

JoharT Wurlirang, 30/7/2018

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan meme ilustrasi tulisan ini

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/346682984790141?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.