Inspiration

Sudah Terbukti! Mau Menjadi Pribadi Yang Bermartabat? Praktikkan Pesan Falsafah Jawa Ini!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Kearifan lokal Jawa yang satu ini dibingkai dalam sebuah tembang macapat Kinanthi. Tembang ini terdapat dalam Wedhatama, pupuh 84. Isinya sangat memberi inspirasi dan motivasi bagi siapa saja untuk menjadi pribadi yang bermartabat. Kita simak yuk.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

“Marma den taberi kulup, angolah lantiping ati, rina wengi den anedya, pandak panduking pambudi, mbengkas kaardaning driya, supadya dadi utama.”

Tembang itu berisi nasihat. Dalam bahasa Indonesia, bisa diterjemahkan sebagai berikut. “Anakku, hendaknya kamu rajin senantiasa, melatih ketajaman hati, siang malam siap sedia, mengatur tabiat tingkah laku, menguasai dan mematahkan keinginan indrawi, agar menjadi orang yang bermartabat.

Yang menarik adalah, tembang ini ternyata menjadi tembang yang sudah terbukti dalam sejarah kehidupan umat manusia. Maka, nasihat itu tak hanya merupakan nasihat isapan jempol, namun sungguh mujarab bila dilaksanakan dan dihayati dalam kehidupan. Salah satu contoh yang berhasil membuktikan kebenaran nasihat tembang tersebut adalah sosok nasionalis-religius, Mgr. Albertus Soegijapranata. Albertus Soegijapranata sangat menyukai tembang ini dan tak hanya menyanyikannya, melainkan juga menghidupinya. Tembang yang menjadi kearifan lokal falsafah Jawa itu sangat disukainya sejak masa kecilnya (lihat G Budi Subanar, Soegija, Si Anak Betlehem van Java, Yogyakarta, Kanisius, 2003:21).

Referensi pihak ketiga – Mgr Albertus Soegijapranata (paling kiri) bersama Presiden Soekarno (berjas hitam dan pecis hitam)

Soegija adalah sosok remaja yang rajin, melatih ketajaman hati siang dan malam, mengatur tabiat dan tingkah lakunya, menguasai dan mematahkan keinginan indrawinya, sehingga ia menjadi pribadi yang bermartabat. Tak seorang pun menduga, bahwa, tokoh kelahiran 25 November 1896, itu di kemudian hari diangkat menjadi Uskup Pribumi pertama di zaman Belanda kala itu. Beliaulah yang dalam hitungan hari sesudah wafatnya, 22 Juli 1963, ditetapkan oleh Presiden Soekarno menjadi Pahlawan Nasional dan dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Giri Tunggal, Semarang.

Lima puluh lima tahun silam, 22 Juli 1963, Mgr. Albertus Soegijapranata wafat di Steyl Belanda, dalam proses berobat saat jeda mengikuti Konsili Vatikan II di Roma. Presiden Soekarno pun memerintahkan agar jenazahnya dibawa pula ke Indonesia, justru karena peranan penting Albertus Soegijapranata dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam melawan Belanda melalui diplomasi internasionalnya. Negara Vatikan, menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia setelah diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Itu berkat diplomasi Mgr. Albertus Soegijapranata.

Referensi pihak ketiga – Saya dan rekan-rekan Pelita berdoa dan berdialog di pusara makam Mgr. Albertus Soegijapranata di TMP Giri Tunggal Semarang

Menurutku, nasihat kearifan lokal falsafah Jawa sebagaimana tampak dalam tembang tersebut, masihlah relevan dan signifikan bagi siapa saja yang bertekad menjadi pribadi yang bermartabat sebagaimana sudah dibuktikan, salah satunya, oleh Mgr. Albertus Soegijapranata.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 23/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi G Budi Subanar, Soegija, Si Anak Betlehem van Java, Yogyakarta, Kanisius, 2003:21

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4127875135792505?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.