Inspiration

Jangan Bingung! Dengarkanlah Suara Hati dalam Keheningan Doa Bersama Tuhan. Caranya?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Dalam kehidupan yang hiruk-pikuk oleh betbagai persoalan, kita diajak untuk bisa mendengarkan suara hati kita. Memang mendengarkan masukan orang lain itu penting. Namun janganlah tergantung pada omongan orang lain. Bagaimana pitutur luhur falsafah Jawa mengajarkan sikap ini? Kita simak yuk!

Referensi pihak ketiga

Setiap keputusan yang kita ambil merupakan tanggung jawab kita sendiri di hadapan Tuhan yang Maha Mengetahui. Manusia memang tidak bisa hidup sendirian dan membutuhkan sesama. Termasuk dalam setiap pengambilan keputusan penting dalam hidup ini. Lalu bagaimana kita harus bersikap.

Pertama, jangan terlalu pusing dengan banyak pertimbangan orang lain. Kalau kita terlalu disibukkan dengan pertimbangan dan suara-suara banyak orang, kita akan menjadi bingung. Apalagi bila suara-suara itu bersifat sumbang. Wah, pasti bikin bingung deh.

Referensi pihak ketiga

Maka, kita pertimbangkan saja suara hati kita sendiri. Dengarkan suara hati dalam doa dan keheningan seraya memohon petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Pastilah, suara hati yang didengarkan dalam doa keheningan doa seraya memohon petunjuk Tuhan, itu akan menjadi suara terbaik yang harus didengarkan! Itu hal kedua yang harus diperhatikan.

Tentu, masih ada hal lain yang penting dicermati. Inilah yang ketiga. Apa itu? Kita konsultasikan keputusan pribadi itu dengan pemimpin kita yang kita percaya dan mempunyai otoritas dalam kehidupan kita. Misalnya, seorang menteri dengan presiden; seorang pastor dengan uskup, seorang biarawati dengan provinsialnya. Bisa jadi pendapatnya berbeda dengan pendapat kita sendiri, namun dalam doa dan keheningan, bisa dipastikan keputusan akhir yang kita ambil dalam penegasan bersama dengan pihak-pihak yang memiliki otoritas atas hidup kita, akan menjadi pilihan terbaik.

Referensi pihak ketiga

Di sinilah kita tidak terlalu banyak mendengarkan omongan orang tetapi mendengarkan keputusan sendiri yang matang sesudah penegasan bersama pembimbing atau pimpinan kita. Yang penting kita taat menjalaninya.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan membetkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 3/8/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2094637387200980?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.