Inspiration

Falsafah Jawa Seni & Budaya Penjaga Keutuhan Bangsa, Bagaimanakah?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Edi peni endahing seni lan budaya iku srana rukun manunggaling bangsa. Itulah ungkapan dalam bahasa Jawa tentang indahnya seni dan budaya itu sarana persatuan bangsa. Lalu bagaimana implementasinya? Inilah salah satunya.

Referensi pihak ketiga

Refleksi dalam tulisan ini terinspirasi dan termotivasi oleh Panitia dan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional sebagai bagian dari masyarakat Katolik Indonesia sedang mempersiapkan pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional Tahun 2018 di Kota Ambon Provinsi Maluku. Salah satu persiapannya adalah diselenggarakan seminar nasional dengan tema “Menjaga Harmoni, Merawat NKRI Melalui Seni Budaya dari Jakarta Menuju Ambon” (Rabu, 8/8/2018) di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta.

Kebetulan, panitia meminta daku menjadi salah satu pembicara bersama Prof Dr Mahfud MD, Irjen Pol Heru Winarko, Lisa A Riyanto dan Brian Jikustik. Seminar yang dimoderatori Prita Laura dari Metro TV itu juga menghadirkan pembicara kunci yakni Menteri Agama RI, Lukman Hakim.

Inilah bahan yang saya persiapkan sebagai salah satu pembicara dalam peristiw tersebut. Saya bagikan di platform ini berdasarkan semangat berbagi. Bagi saya, keindahan seni budaya kerukunan itu laksana alat musik saksofon yang biasa saya mainkan. Saksofon itu dirangkai dari berbagai unsur yang beragam. Namun saksofon hanya bisa dibunyikan bila bagian-bagian itu dirangkai dalam satu kesatuan dan dihembusi nafas kasih dan damai. Hasilnya, suara keindahan. Apalagi dimainkan dalam sinergi dengan unsur-unsur yang lain.

Referensi pihak ketiga

Kecuali itu, dalam rangka persatuan indah dalam keberagaman, bagiku, seni budaya adalah rahmat yang mengagumkan! Sebab seni budaya itu mempersatukan, persatuan yang menghadirkan keindahan dan kegembiraan. Karenanya, saya akan mengawali presentasi saya dengan menyanyikan lagu Amazing Grace versi album saya sendiri yang bercorak sedikit nge-rock ringan gembira.

Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang baik, benar dan suci dalam setiap agama dan kebudayaan (LG 16, NA 2). Inilah landasan teologis saya dalam membangun gerakan seni budaya dalam berbagai ekspresinya (lukis, musik, tari dan nyanyian) yang selama ini saya lakukan dalam rangka srawung dan membangun persaudaraan sejati yang rukun dan bersatu dalam sikap saling hormat dalam keberagaman. Melalui jalur seni dan budaya, saya belajar mempromosikan terwujudnya peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermatabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaannya. 

Bagi saya seni budaya adalah jalan strategis pemersatu keberagaman dengan semangat saling memperkaya dan menopang, bukan menghancurkan dan menghambat. Maka, seni dan budaya itu pemersatu umat manusia, pemersatu bangsa, pemersatu NKRI!

Semua itu bukan teori dan berhenti pada ruang diskusi; melainkan nyata dalam berbagai gerakan dalam keberagaman. Berikut contoh-contoh nyata gerakan tersebut sebagaimana kami buat di Keuskupan Agung Semarang. Gerakan seperti ini dengan segala variasi dan modelnya sudah berlangsung sejak 10 tahun terakhir pelayanan saya sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang. Yang saya sebutkan di sini hanyalah beberapa contoh saja. Selebihnya bisa dilacak di youtube dengan ketik Aloys Budi Purnomo kerukunan persaudaraan, di sana akan muncul data-data tentang gerakan seni budaya yang mempersatukan. Maka, tidaklah berlebihan kalau saya katakan bahwa pemersatu NKRI itu bukan politik praktis, meski itu diperlukan, namun yang utama adalah seni dan budaya. Dalam seni budaya yang penuh keberagaman kultural dan religius, tampak kebenaran sesanti bangsa ini: Bhinneka Tunggal Ika dalam satu nafas kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan hanya bhinneka, melainkan Bhinneka Tunggal Ika. 

Referensi pihak ketiga

Inilah contoh dokumenter seni budaya itu, misalnya peristiwa jumpa hati perempuan lintas agama di halaman gereja Ungaran; gelar budaya di alun-alun Bung Karno Kabupaten Semarang; pameran lukisan perdamaian Palestina dan kerukunan kita di Pastoran Unika Semarang, kerukunan tokoh lintas agama dalam lagu Damai dalam Cinta di Yogyakarta; srawung orang muda lintas agama di Solo, Yogyakarta, Muntilan, dan Semarang. Gerakan itu kian meluas dan mengakar, sehingga tak hanya Komisi HAK KAS yang menyelenggarakannya melainkan juga sejumlah paroki, rayon dan kevikepan (semacam karisidenan) di Keuskupan Agung Semarang. 

Yang terbaru, sepanjang tahun 2018, ini sejak Maret hingga Oktober nanti sebagai puncaknya, seni budaya juga menjadi sarana untuk peristiwa Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Lintas Agama Se-Keuskupan Agung Semarang. Orang muda menggunakan seni dan budaya sebagai sarana pemersatu NKRI di tingkat akar rumput. Jadi benarlah bahwa bukan politik praktis yang mempersatukan NKRI, melainkan seni dan budaya. Itulah pemersatu bangsa. 

Demikian, terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 7/8/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2478020839516408?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.