Inspiration

Indahnya Hidup Damai dalam Rengkuhan Kasih Tuhan, Cobalah Pula Terhadap yang Mencaci Kamu!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Kearifan lokal falsafah Jawa ini ternyata memiliki jawaban dan cocok banget dengan doa Nabi Daud, sebagaimana tampak dalam Kitab Mazmur 131:1-2. Apalagi dalam versi terjemahan bahasa Jawa. Saat kita hidup damai dalam rengkuhan kasih Tuhan, kita pun tak akan bersikap sombong dan tinggi hati, tetapi justru belajar mengasihi yang mencanci dan membenci! Indah banget Gan!

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kearifan lokalnya berbunyi rep tidhem permanem asrah dhiri ing Ngarsa-Ne Pangeran! Artinya, hati tenteram dan damai dalam sikap pasrah diri di hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Pasrah diri itu membawa damai sejahtera sebab dalam pasrah diri itu kita berserah kepada Tuhan yang juga Maha Pengasih dan Penyayang. Nah, itulah yang diserukan oleh Nabi Daud dalam doanya.

Dalam terjemahan bahasa Jawa, doa Nabi Daud dalam Kitab Mazmur itu diterjemahkan sebagai berikut. Indah banget bila kita daraskan pula, apa pun agama dan kepercayaan kita. Begini selengkapnya.

“Gusti, kawula mboten kumaluhur, kula boten badhe tumindah kumalungkung ugi boten badhe kawula ngoyak bab-bab ingkang agung ugi boten kelampah kawula badhe nubrung uwung-uwung suwung. Yektinipun kawula sampun nentremaken manah lan jiwa kawula, sampun mendel anteng pindha lare alit kasapih nembe angler tilem kakekep biyung, makaten kados bayi kasapih wau, jiwa kawula manjing dhiri” (Mazmur 131:1-2).

Terjemahan dalam bahasa Jawa tersebut kalau dibaca dalam terjemahan bahasa Indonesia berbunyi sebagai berikut. “Tuhan, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.”

Referensi pihak ketiga

Bagi akrab dan biasa mengolah kearifan lokal pitutur luhur budaya Jawa, pastilah terjemahan dalam bahasa Jawa tersebut memberi sentuhan rasa-perasaan tersendiri. Bahasa itu menjadi bahasa yang menyentuh jiwa dan rasa manusiawi kita untuk mengalami yang disebut hidup tenteram di dalam kerahiman Tuhan. Hidup tenteram dalam kerahiman Tuhan itulah yang disebut rep tidhem permanem asrah dhiri ing Ngarsa-Ne Pangeran.

Nah, orang yang hidup tenteram di hadirat Tuhan ditandai dengan kerendahan hati, bukan sikap tinggi hati apalagi memandang orang lain dengan sombong. Ia juga tidak mengejar hal-hal yang ajaib. Justru jiwanya tenang dalam hadirat Tuhan laksana bayi yang disapih dan dekat dengan Bundanya. Maka, kalau ada orang-orang yang masih gampang jatuh dalam sikap sombong, tinggi hati, lalu memandang rendah orang lain, itu hanya pertanda bahwa dia sedang tidak memiliki hati yang ayem tentrem dalam kehangatan dengan Tuhan! Karena itu, tidak usah orang seperti itu ditanggapi dengan emosi apalagi dibalas dengan kekerasan seperti yang dilakukannya. Rengkuh sajalah ia seperti falsafah Jawa, dipangku saja maka ia akan mati dalam dirinya sendiri laksana huruf-huruf Jawa itu, mati bila dipangku.

Referensi pihak ketiga

Demikian, semoga kita diberi anugerah kekuatan untuk berhati tentram dalam pangkuan Tuhan, sehingga kita pun dimampukan untuk memangku siapa saja yang ada bersama kita dengan kasih sayang, bukan dengan kebencian. Semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 20/8/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2375447037756949?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.