Inspiration

Indahnya Merawat Kearifan Lokal Jawa Melalui Lomba Tembang Macapat! Seperti Apakah?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Asyik juga nguri-nguri kabudayan Jawi melalui adu wasis tembang macapat ini. Nguri-nguri sama dengan merawat. Maka, nguri-nguri kabudayan Jawi berarti merawat kebudayaan Jawa. Seperti apakah? Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Itu terjadi di daerah saya, di Baturetno, Wonogiri pada hari Minggu, 12 Agustus 2018 yang lalu. Di desa Baturetno, terjadilah lomba menyanyikan tembang macapat dalam rangka nguri-nguri kabudayan Jawi. Salah satu yang ditempuh adalah dengan lomba tembang macapat ini. Dari 22 RW, peserta datang dari 14 RW. Artinya, lebih dari 50% RW turut berpartisipasi dalam adu wasis tembang macapat tersebut. Tiap RW mengirimkan dua peserta, lak-laki maupun perempuan dewasa.

Lomba tembang macapat itu dilaksanakan di Balai Desa Baturetno. Uniknya, seperti dirilis dalam milist Romo Paroki Baturetno, “Ingkang kakung sami busanan Jawi jangkep, kalebet pendhokan. Ingkang putri wonten ingkang ukelan, wonten ingkang jilbaban. Wonten ingkang anem, wonten ugi ingkang sepuh (yuswa 85 taun).” Itu pertanda bahwa antusiasme warga sangat besar. Tua muda terlibat. Mereka mengenakan pakaian adat Jawa secara lengkap.

Referensi pihak ketiga

Menurut Kepala Desa Baturetno, Ketua Panitia, dan para Yuri memberikan kesaksian bahwa kegiatan ini dinilai bermutu tinggi. Tembang yang dinyanyikan juga memiliki makna yang mendalam. Diharapkan hal seperti ini bisa dilaksanakan setiap tahun.

Ada dua tembang yang dilombakan yakni tembang Dhandhanggula dan Sinom. Inilah salah satu contoh pupuh Dhandhanggula. Temanya sangat ekologis.

“Wruhanira kang durung menggalih,/ lamun donya keh krisis kang toya./ Kasangsaran iku wohe./ Lan uga krisis iku/ sumambung ing segering angin./ Sesuker warna-warna/ nyaket saru-siku./ Memala kang mrana-mrana/ entheng, abot tumempun ing kita sami./ Datanpa bisa endha.”

Ketahuilah bagi yang belum memikirkannya. Bila dunia ini banyak terjadi krisi air. Penderitaan akan terjadi dalam kehidupan. Selain krisis air, juga akan krisis udara segar. Banyak hal terjadi yang buruk dan mengganggu kehidupan ini. Penyakit akan timbul di mana-mana, dan akan menimpa kita, berat maupun ringan. Tak seorang pun bisa menghindarinya.

Itulah makna dari bait pertama. Menarik pula mencermati bait yang kedua tembang Dhandhanggula yang dilombakan. Beginilah dirumuskan.

“Lamun iki kang nyata wigati:/ banyu resik klawan seger hawa/ cumawis ing kana-kene./ Sengara bisa tuhu/ njagakake sinambi ngisis./ Ngedumel tanpa mendha/ dudu cara iku./ Sebat-sebut mbuwang larah,/ kebal-kebul, hawa suker kang tinampi./ Nebihken jangka mulya.”

Maknanya, kalau hal ini dianggap sungguh penting, air bersih dan udara segar, tersedia di mana pun juga; maka tak mungkin kita hanya menunggu sambil bermalas-malasan, apalagi hanya berkeluh kesah, bukan cara itu. Buahlah semua hal buruh, udara yang terpolusi, yang menjauhkan kita dari cita-cita mulia.

Referensi pihak ketiga – Para Peserta Lomba Macapat di Baturetno, Wonogiri

Itu sekadar cuplikan dari tembang yang dilombakan. Menarik sekali bahwa di zaman now, masih dilakukan nguri-nguri kabudaya Jawi dengan tembang macapat. Ini satu langkah kreatif dalam rangka nguri-nguri kabudayan Jawi. Lanjutkan!

Bagaimana menurutmu? Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Kampus Ungu Unika Seogijapranata, 16/8/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi informasi dari milist Pastor-Paroki KAS (15/8/2018)

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1736462737951998?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.