Inspiration

Janganlah Ambeg Angkara Murka, Lebih Baik Bersikap Lemah Lembut, Bahkan Diam, Mengapa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Sikap ambeg angkara murka budi candala adalah gambaran orang yang jahat sejahat-jahatnya manusia. Ia berwatak angkara murka. Dengan segala sikapnya yang kasar dan keras, ia menjadi sumber kekacauan dan keributan dalam kehidupan bersama. Bahkan, dengan muda, orang yang ambeg angkara murka budi candala terpancing untuk melakukan penumpahan darah terhadap orang yang berbeda dari dirinya.

Referensi pihak ketiga

Dalam dunia pewayangan, sikap ambeg angkara murka sering digambarkan dalam diri para Kurawa atau juga dalam diri Rahwana. Baik para Kurawa dari versi Mahabarata maupun Rahwana dalam versi Ramayana adalah sosok pribadi yang ambeg angkara murka budi candala. Mereka mudah sekali menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan dan kepentingan mereka pribadi. Bahkan, kerap kali mereka bersikap kasar terhadap kaum lemah.

Sebenarnya, kearifan lokal falsafah Jawa ini bisa menjadi semacam kaca benggala untuk melihat diri sendiri dan sesama. Dengan kearifan ini, kita diajak untuk bertanya diri, apakah aku masih dikuasai oleh watak ambeg angkara murka budi candala? Atau, kita bisa melihat orang-orang lain, apakah mereka itu masuk dalam kelompok yang berwatak ambeg angkara murka budi candala? Ataukah yang sebaliknya, yang baik dan positif, yakni watak ambeg paramarta atau ambeg parama arta, yakni orang yang baik, sabar, murah hati dan derwaman?

Referensi pihak ketiga

Dalam konstelasi sosial-politik-kemasyarakatan, kacan benggala ini juga bisa dipakai untuk kriteria mengambil keputusan dalam hal memberikan pilihan atau dukungan pada calon pemimpin tertentu. Janganlah memilih mereka yang masih menampilkan watak ambeg angkara murka, sebab mereka tak akan membawa bangsa ini maju dan sejahtera, melainkan justru akan menyengsarakan rakyat demi kepentingan dan kekuasaan mereka sendiri.

Demikianlah, refleksi tentang sikap ambeg angkara murka budi candala ternyata tak bisa dipisahkan dari lawannya yakni ambeg paramarta. Yang kedua selalu menjadi pilihan yang terbaik daripada yang pertama dalam konteks refleksi ini. Yang kedua adalah ambeg paramarta, yang pertama adalah ambeg angkara murka budi candala.

Referensi pihak ketiga

Nah, dari pada bersikap ambeg angkara murka budi candala, saya mengusulkan, lebih baik bersikap lemah lembut atau bahkan diam. Diam dalam arti tidak melawan angkara murka dengan kekerasan, tetapi tetap melawan dengan suara dan karya demi kebaikan. Lawan dengan karya nyata yang baik, meskipun dipandang sebelah mata, bahkan dipersalahkan! Tetapi maju terus bersikap ambeg paramarta!

Semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua dengan sikap ambeg paramarta dan menjauhkan kita dari sikap ambeg angkara murka budi candala!***

JoharT Wurlirang, 6/8/2018

SUmber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017: 28)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3470737810916682?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.