Inspiration

Janganlah Melupakan Kemanusiaan! Inspirasi Falsafah Jawa bagi Habitus Digital, Bagaimana?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inspirasi falsafah Jawa meberikan pitutur luhur aja nglalekake jejering kamanungsan. Makna falsafah Jawa ini sangat dalam di tengah arus kehidupan yang serba modern, cepat dan maju ini. Manusia mengalami kemajuan pesat dalam kehidupannya dengan berbagai karya dan kreasinya, juga di bidang teknologi. Namun, manusia harus membangun habitus yang baik demi masa depan kemanusiaan itu sendiri. Karena itu, aja nglalekake jejering kamanungsan! Jangan melupakan martabat manusia. Ingat, semua kemajuan itu untuk kesejahteraan manusia, bukan sebaliknya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Itulah salah satu sisi implementasi visi talenta pro patria et humanitate (bakat dan kemampuan untuk bangsa dan umat manusia) yang secara luar biasa disampaikan saudaraku Robertus Setiawan Aji Nugroho, PhD dalam orasi ilmiahnya pada Upacara Peringatan Dies Natalis XXXVI Universitas Katolik Soegijapranata Semarang (6/8/2018) di Ruang Theatre Gedung St. Thomas Aquinas Unika Seogijapranata. Sungguh luar biasa istimewa orasi Setiawan yang disampaikan dalam rapat senat terbuka Unika Seogijapranata dan dihadiri banyak pihak selain para pegawai Unika.

Dalam perspektif pitutur luhur budaya Jawa, yang disampaikan Mas Setiawan kutempatkan sebagai peringatan, aja nglalekake jejering kamanungsan. Kamanungsan (kemanusiaan) harus menjadi landasan bagi habitus digital yang mestinya membawa manusia menguasai teknologi untuk hidup yang lebih baik sebagai manusia. Bukan sebaliknya, manusia menjadi mesin dan robot tanpa pikiran, nurani, hati dan jiwa penuh aktivitas nir spiritualitas!

Referensi pihak ketiga

Itulah sebabnya, diperlukan habitus digital! Mengacu pada pandangan Filsuf Perancis Pierre Bourdieu (1977), habitus merupakan pengetahuan praktis akan nilai-nilai sosial yang diperlukan untuk merespon dan memahami berbagai hal yang ada di sekitar kita. Menarik sekali, bahwa Robertus Setiawan mengutip Nota Pastoral Sidang KWI tentang habitus yang mengatakan bahwa habitus adalah gugus insting baik individual maupun kolektif yang membentuk cara merasa, cara berpikir, cara melihat, cara memahami, cara mendekati, cara bertindak dan cara berelasi seseorang atau kelompok. Tak hanya itu, Setiawan Aji juga mengutip konsep habitus baru dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2006-2010 yang ternyata cukup diterima oleh berbagai kalangan di perkotaan maupun di pedesaan, bahkan di pelosok, bahwa habitus itu penting.

Lalu bagaimana dengan habitus digital agar tidak melupakan jejering kamanungsan? Sebenarnya, banyak pihak melihat habitus digital merupakan peluang untuk mengupayakan hidup manusia yang lebih baik; meski yang lain merasa gagap dan gugup. Habitus ini memberi peluang wirausaha dan pengembangan hidup yang lebih sejahtera. Untuk itu harus ada sinergi antara semua pihak, utamanya antara masyarakat, pemerintah dan akademisi. Maka, kemajuan teknologi yang melesat cepat dan rentan membuat manusia kehilangan arah, harus dikelola sebagai habitus yang positif yang membawa berkah. Jangan sampai, hasil karya manusia ini justru menjauhkan manusia dari kemanusiaan; mengerontangkan hati manusia tanpa belarasa karena terjebak dalam banjir fitnah dan ujaran kebencian; bahkan menyerah pada apatisme dan intoleransi. Jangan sampai semua itu terjadi!

Menurutku, sejauh kusimpulkan dari paparan Robertus Setiawan Aji Nugroho PhD, habitus digital yang positif, kreatif, transformasi inspiratif dan partisipasi sinergis harus terus diupayakan bukan dengan akal apalagi okol belaka; melainkan dengan hati, rasa-pangrasa, dan semangat belarasa. Dengan demikian, habitus digital akan mengubah ancaman menjadi kegembiraan, musibah menjadi berkah, ujaran benci dan bohong menjadi kasih dan hati bombong.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Demikian, salah satu sudut pandang yang kutangkap dari orasi ilmiah yang dengan sangat luar biasa istimewa disampaikan oleh Robertus Setiawan AJi Nugroho PhD yang baru menyelesaikan studi doktoratnya di Macquarie University, Sydney, Australia ini. Sudut pandang itu laksana tumbu oleh tutup dalam rangka mengembangkan hasil karya manusia dengan semangat belarasa dan kepekaan kepada sesama dan semesta. Terima kasih Mas Setiawan Aji Nugroho. Semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 6/8/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi falsafah Jawa dan orasi ilmiah Robertus Setiawan Aji Nugroho

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1540668445536265?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.