Inspiration

Janganlah Membutakan Mata yang Melihat! Yang Penting Keadilan & Kesejahteraan Kian Merata

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Pitutur luhur budaya Jawa mempunyai falsafah yang indah. Aja micakake wong melek. Apa arti dan maknanya? Mari kita simak saja.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Micakake wong melek itu berarti membutakan orang yang melihat dan memandang kenyataan yang ada. Sebenarnya, gagasan dasar dari pitutur luhur ini adalah untuk menggambarkan seseorang yang tidak tahu malu atas perbuatannya yang buruk, bahkan jahat bagi masyarakat.

Micakake wong melek berarti menganggap bahwa orang lain, bahkan semua orang lain itu buta, seakan tidak melihat apa yang sesungguhnya terjadi. Ini bukan soal gosip, bukan soal hoax, bukan soal fitnah, melainkan soal realitas atau kenyataannya. Kenyataannya jelas, namun, seakan orang lain harus menutup mata agar tidak melihat dan mengakuinya.

Menurut saya, pitutur luhur ini bisa diterapkan dalam hal yang negatif, tetapi juga dalam hal yang positif. Dalam hal yang negatif misalnya begini. Masyarakat sudah tahu rekam jejak seseorang di tengah masyarakat terkait dengan hal-hal buruk bahkan jahat yang dilakukannya. Namun, yang bersangkutan tampak tetap tenang, bahkan tersenyum, bahkan, justru memutarbalikkan fakta dengan menyerang pihak lain hanya karena motif-motif kekuasaan. Karena hasrat untuk berkuasa, ia lupa pada masa lalunya dan kemudian menyerang pihak lain seakan jahat, padahal dirinya sebenarnya lebih jahat di mata sebagian besar masyarakat yang cerdas dan rasional. Ambil contoh lain, misalnya, mereka yang tertangkap tangan dalam kasus korupsi. Kita saksikan para koruptor itu tetap tersenyum, pasang muka manis, bahkan dengan atribut-atribut religius; tanpa pernah merasa bersalah bahwa mereka sudah rakut melahap uang negara yang juga uang rakyat. Ini parah banget!

Nah, dalam kenyataannya, sekarang ini, micakake wong melek juga bisa berlaku untuk hal-hal yang positif. Contohnya, ada banyak hal yang baik, kemajuan, kesejahteraan, pemerataan keadilan, dan seterusnya yang menandakan suatu keberhasilan suatu kepemimpinan pemerintahan, toh yang bersangkutan terus diserang seakan-akan yang dilakukannya itu salah semua. Padahal, data dan bukti jelas. Semua bisa ditunjukkan, masyarakat luas juga mengakui, bahkan dunia pun mengakui fakta ini; namun lawan-lawan politik yang haus kekuasaan terus berupaya menyerang dan hendak menggulingkannya. Tanpa menyebut nama pun, yang dengan jujur dan cerdas membaca tulisan ini, akan tahu dan merasakan siapa yang dimaksudkan. Saya memang sengaja tidak menyebut nama, biarlah menjadi bahan refleksi terbuka, jangan-jangan kita sendiri juga terjebak dalam sikap yang menjadi pitutur luhur falsafah ini.

Mari, kita tidak micakake wong melek. Mari kita bersikap rendah hati dan terbuka mengakui kebaikan sesama. Jangan sampai hati kita membantu, mata kita membuta dan bibir kita kelu dalam mengakui kebaikan sesama; tetapi juga mari dengan rendah hati pula menyadri bahwa kita kadang bahkan kerap kali masih sering terjebak dalam kesalahan.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 13/8/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi dari Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:257)

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3147335020807106?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.