Inspiration

Menghayati dan Menggemakan Persaudaraan dalam Keberagaman Melalui Banyuning Srawung

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Menggemakan banyuning srawung terjadi secara unik di Balai Budaya Rejosari, Kudus. Ratusan anak-anak, remaja, orang muda, kaum dewasa dan tokoh lintas agama terlibat penuh swmangat dalam upacara, prosesi dan perayaan keberagaman dalam tajuk Banyuwing Srawung. Bagaimana prosesnya? Manakah pokok kearifan lokal falsafah Jawanya?

Referensi pihak ketiga

Mastarakat setempat tampak penuh semangat menyambut prosesi ngangsu banyu ke Sendang Rejosari yang dilakukan oleh ratusan peserta Banyuning Srawung (Sabtu, 18/8/2018). Prosesi dilaksanakan sesudah ritual kebangsaan yakni menyanyikan Indonesia Raya, Pembacaan Teks Proklamasi, Pembacaan Pancasila, dan Pembukaan UUD 1945. Yang unik adalah prosesi dibuka dengan lintas agama dari Islam, Hindu, Buddha, Bahai dan Katolik.

Urutan-urutan prosesi diawali dengan komunitas teater, pantomim, angklung, dan komunitas-komunitas lintas agama. Mereka tak ragu berarak di bawah terik matahari yang menyengat dan berjalan sekitar 1,5 km dari Balai Budaya Rejosari menuju Sendang untuk mengambil air (ngangsu banyu srawung) dan kembali lagi ke Balai Budaya Rejosari. Masyarakat pun menyambut dengan penuh antusias. Proses ngangsu banyu juga disemarakkan oleh tarian teatrikal oleh para calon imam MSF dari Salatiga. Suasana ngangau banyu pun tak khusyuk dan syahdu.

Referensi pihak ketiga

Sesampai di Balai Budaya Rejosari lagi, diselenggarakan ritual menuang air ke dalam genthong dan mencuci tangan para pemuda lintas agama oleh tokoh-tokoh lintas agama. Ritual itu diawal8 dengan orasi budaya tentang makna air oleh Romo Ipenk MSF dan saya sendiri, Romo Budhenk Pr. Baikan Romo Ipenk maupun saya menyampaikan makna air dalam kehidupan. Air memiliki makna dalam kehidupan manusia maupun agama-agama dan budaya. Semua memberi tempat penting bagi keberadaan air. Saya juga terangkan pentingnya laku hambeging tirta.

Puncak ritual ini ditutup dengan srawung banyu banyuning srawung. Caranya, semua hadirin mengambil air dalam plastik dan kemudian saling melempar air satu sama lain. Syaratnya, tidak boleh marah dan tidak boleh tersinggung. Begitulah banyuning srawung terjadi dan ditempatkan pula dalam rangka prasrawung yang puncaknya akan dilaksanakan pada tanggal 26-28 Oktober 2018 mendatang.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Demikian informasi sekilas dan refleksi singkat falsafah banyuning urip sebagaimana dilaksanakan di Balai Budaya Rejosari, Kudus. Semoga bermanfaat. Proficiat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Balai Budaya Rejosari Kudus, 18/8/2018

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan keterlibatan sinergis dalam acara Banyuning Srawung di Balai Budaya Rejosari Kudus

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3456320017968203?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.